Saham SpaceX untuk pertama kalinya merosot di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) pada Rabu pekan lalu, sebelum ditutup tipis di atas level tersebut. Penurunan ini terjadi hanya sekitar satu bulan setelah perusahaan roket dan kecerdasan buatan itu mencatatkan IPO terbesar sepanjang sejarah dan mendongkrak kekayaan Elon Musk menjadi triliuner pertama di dunia.
Pada penutupan perdagangan, saham SpaceX melemah 0,6 persen ke posisi 135,27 dollar AS. Di sesi perdagangan, harga sempat terjun bebas menyentuh 132,28 dollar AS, atau di bawah harga IPO 135 dollar AS. Angka itu jauh dari level puncak sebulan sebelumnya yang sempat menempatkan valuasi perusahaan di atas raksasa teknologi Microsoft dan Amazon.
Euforia yang membuncah selepas IPO terbesar itu kini berbalik arah. Valuasi SpaceX sempat menyentuh 2,6 triliun dollar AS pada bulan lalu, namun pada Rabu sore pekan lalu nilainya susut menjadi 1,78 triliun dollar AS. Perubahan drastis ini menjadi pengingat bahwa antusiasme Wall Street bisa berubah dengan cepat, meski terhadap perusahaan dengan ambisi raksasa dan dukungan figur kontroversial seperti Musk.
Beberapa faktor fundamental memicu koreksi tersebut. Investor mulai khawatir dengan belanja infrastruktur kecerdasan buatan yang didanai utang, serta risiko kenaikan suku bunga dari Federal Reserve yang dapat menekan valuasi saham teknologi. Bulan lalu, SpaceX menerbitkan obligasi senilai 25 miliar dollar AS untuk membiayai pembangunan infrastruktur teknologi mahal yang prospek pengembaliannya masih diperdebatkan di kalangan analis.
Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com, menilai mundurnya saham ini merupakan kombinasi aksi ambil untung, penilaian ulang valuasi, dan pembongkaran posisi bullish yang terlalu ekstrem pasca-pencatatan saham paling dinanti dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ke bawah harga IPO memang lazim terjadi saat pasar sedang tertekan, tetapi bagi SpaceX, hal itu memperkuat argumen kritikus yang sejak awal menilai valuasinya berlebihan.
Perusahaan itu membukukan kerugian 4,9 miliar dollar AS pada tahun lalu. Banyak ambisi yang digadang-gadang, seperti pusat data orbital dan misi bulan, belum teruji secara komersial. Ketergantungan pada utang untuk ekspansi AI membuat profil risiko SpaceX kian menyerupai perusahaan teknologi yang bermain di wilayah spekulatif.
Bagi Indonesia, guncangan valuasi SpaceX menyoroti risiko investasi pada perusahaan berbasis ruang angkasa dan AI yang belum mencetak laba. Meski belum ada saham SpaceX di Bursa Efek Indonesia, banyak investor domestik mengekspos diri lewat reksa dana global atau sekuritas luar negeri. Kejatuhan saham ini menjadi pelajaran bahwa euforia aset teknologi tinggi bisa berbalik dalam sekejap.
Di sisi lain, ekosistem startup Indonesia yang kerap mengejar valuasi unicorn dari burn rate besar patut melihat kasus ini. Pendanaan agresif tanpa jalur profitabilitas jelas rentan terhadap koreksi pasar global. Kehadiran satelit Starlink di Indonesia justru membuat konsumen lokal memiliki ketergantungan tidak langsung pada kinerja induk yang sedang bergejolak.
Justus Parmar, CEO Fortuna Investments yang menanamkan modal di SpaceX, mengungkapkan banyak pihak memegang saham dan sebagian ingin mengambil likuiditas, sehingga menekan harga. Menurutnya, tekanan itu akan terus terlihat sepanjang tahun ini. Steve Sosnick dari Interactive Brokers menambahkan, masuknya SpaceX ke indeks Nasdaq 100 tidak cukup menjadi katalis pengungkit sentimen positif.
Saham SpaceX malah turun 13 persen sejak masuk Nasdaq 100. Investor kini menunggu laporan keuangan perdana pasca-IPO yang diperkirakan rilis di pekan pertama Agustus. Usai rilis, masa lock-up IPO tahap pertama berakhir, memungkinkan karyawan dan pemegang saham awal menjual sebagian kepemilikan yang berpotensi menekan harga lebih dalam.
Uji terbang ke-13 Starship menjadi penentuan penting berikutnya. Keberhasilan roket itu krusial untuk menekan biaya peluncuran dan mendukung proyek jangka panjang seperti pusat data orbital. Parmar menegaskan eksperimen ini baru berjalan 30 hari dan modal 85 miliar dollar AS dari Musk baru tahap awal pertumbuhan bertahun-tahun. Pasar Indonesia perlu memantau karena stabilitas SpaceX beririk pada harga layanan satelit di dalam negeri.
Koreksi saham SpaceX bukan akhir cerita, melainkan fase penyesuaian setelah harga yang melampaui batas wajar. Investor global sedang menimbang ulang mana teknologi masa depan yang layak dibayar mahal hari ini. Bagi pembaca di Tanah Air, volatilitas ini mengingatkan bahwa valuasi besar belum jaminan keamanan investasi.