Nasional

SAR Jakarta Temukan Jasad Pemuda Tenggelam di Banjir Kanal Barat

Ringkasan

  • Tim SAR Jakarta menemukan jasad M.
  • Tomul Adi Kurniawan (19) yang terbawa arus dan tenggelam di Kali Banjir Kanal Barat, Jakarta Barat.
  • Korban dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga.

Personel Kantor SAR Jakarta menemukan jasad M. Tomul Adi Kurniawan (19) yang dilaporkan terbawa arus dan tenggelam di Kali Banjir Kanal Barat (BKB), Jakarta Barat. Korban ditemukan dalam kondisi mengambang di kawasan Sungai Season City, sekitar 1,5 kilometer dari lokasi kejadian.

Kepala Kantor SAR Jakarta Desiana Kartika Bahari mengatakan jasad korban pertama kali terlihat oleh warga di kolong Jembatan Season City pada Senin pukul 07.20 WIB. Tim SAR gabungan yang langsung menuju lokasi berhasil mengidentifikasi korban pada pukul 08.00 WIB. Identitasnya diketahui sebagai M. Tomul Adi Kurniawan, pemuda berusia 19 tahun yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian.

Korban selanjutnya dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR dinyatakan selesai dan seluruh personel yang terlibat dikembalikan ke satuan masing-masing.

Sebelum penemuan itu, tim SAR gabungan telah melakukan pencarian sejak korban dilaporkan hilang. Upaya penyisiran dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). SRU pertama menyisir aliran Kali BKB menggunakan perahu karet sepanjang tiga kilometer dari lokasi kejadian. SRU kedua melakukan penyisiran visual melalui jalur darat di sepanjang bantaran kali hingga lima kilometer.

Operasi pencarian melibatkan banyak unsur, mulai dari Kantor SAR Jakarta, Pemadam Kebakaran Tanjung Duren, BPBD Jakarta Barat, Babinsa Kelurahan Duri Pulo, BTB Bazis/Baznas, ERT Rumah Zakat, IMANICARE, Mapala Mustopo, RMI, RAC, SAR MTA, hingga masyarakat sekitar.

"Korban sebelumnya dilaporkan terbawa arus dan tenggelam di Kali Banjir Kanal Barat. Selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga," kata Desiana dalam keterangan resminya.

Kejadian ini merupakan yang terbaru dari serangkaian insiden tenggelam di saluran air Jakarta. Kali BKB merupakan infrastruktur pengendali banjir yang membentang dari Bendung Karet hingga Muara Angke. Alirannya kerap deras, terlebih saat volume air meningkat akibat hujan di hulu. Kondisi ini membuat siapa pun yang berada di dekat bantaran kali berisiko tinggi terbawa arus.

Para pengamat tata kota menilai insiden seperti ini kerap terjadi karena minimnya pagar pengaman dan kurangnya kesadaran warga akan bahaya aliran kali. Area sekitar BKB yang padat penduduk menjadi titik rawan, terutama bagi anak muda yang beraktivitas di sekitar tanggul.

Bagi keluarga korban, kehilangan ini tentu menjadi duka mendalam. Masyarakat di sekitar lokasi juga diingatkan kembali untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di dekat badan air, khususnya pada musim hujan ketika arus kali lebih deras dari biasanya.

Kepala Kantor SAR Jakarta mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat orang yang kesulitan di aliran sungai. Respons cepat warga dan koordinasi dengan petugas dapat mempercepat proses evakuasi dan memperbesar peluang keselamatan.

Ke depan, koordinasi antara SAR, BPBD, dan pemerintah kelurahan perlu diperkuat, tidak hanya untuk penanganan darurat, tetapi juga untuk upaya pencegahan. Pemasangan rambu bahaya, pagar pengaman, serta patroli rutin di sepanjang aliran kali bisa menjadi langkah konkret mengurangi risiko.

Peristiwa tenggelam di Kali BKB ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur perkotaan kerap menyimpan bahaya yang tidak terlihat. Kewaspadaan dan edukasi keselamatan harus berjalan beriringan dengan penegakan aturan tentang pemanfaatan area bantaran sungai agar tidak ada lagi korban jiwa.

Mengapa Ini Penting

Peristiwa ini menunjukkan bahwa saluran air perkotaan seperti Kali BKB menyimpan bahaya serius bagi warga, terutama saat musim hujan. Selain menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan di sekitar badan air, kejadian ini menyoroti perlunya peningkatan infrastruktur pengaman dan edukasi mitigasi bencana bagi masyarakat Jakarta. Respons cepat SAR yang melibatkan banyak instansi juga menjadi contoh kolaborasi penanganan darurat yang perlu terus diperkuat, sekaligus mendorong langkah pencegahan agar insiden serupa tidak berulang.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
3 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit