Nasional

SLBN 02 Jakarta Siapkan Siswa Disabilitas Lewat Sembilan Pelatihan Vokasi

Ringkasan

  • SLBN 02 Jakarta melatih 230 siswa disabilitas lewat 9 vokasi agar mandiri bekerja.

Sekolah Luar Biasa Negeri 02 Jakarta membekali 230 siswa penyandang disabilitas dengan sembilan program keterampilan vokasi agar mereka memiliki bekal mandiri dan siap terjun ke dunia kerja. Kebijakan tersebut dijalankan melalui jadwal pelatihan khusus yang dibagi berdasarkan jenjang pendidikan, mulai dari SMP hingga SMA, di lingkungan sekolah tersebut pada tahun ajaran berjalan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SLBN 02 Jakarta, Dewi Januarti, menyatakan bahwa sembilan pelatihan yang disediakan meliputi batik, tata boga, sablon, perbengkelan motor, suvenir, tata busana, tata graha, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta hortikultura. Pemilihan keterampilan disesuaikan dengan minat anak dan observasi guru terhadap kemampuan masing-masing siswa, termasuk masukan dari orang tua.

Siswa SMP mengikuti pelatihan pada Selasa dan Kamis, sedangkan siswa SMA melakukannya lebih intensif, yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Seluruh instruktur berasal dari guru sekolah itu sendiri. Menurut Dewi, pendidik di SLB memang dituntut serba bisa karena harus merangkap sebagai pengajar sekaligus pelatih keterampilan praktis.

Program vokasi ini lahir dari kebutuhan nyata akan kemandirian penyandang disabilitas setelah lulus sekolah. Selama ini, tingkat partisipasi penyandang disabilitas di pasar kerja Indonesia masih rendah akibat berbagai hambatan, mulai dari akses fisik, stigma, hingga minimnya pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri. SLBN 02 mencoba menutup celah tersebut sejak dini.

Pendekatan berbasis keterampilan juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mewajibkan pemerintah daerah menyediakan akses pendidikan dan pelatihan kerja inklusif. Jakarta, sebagai ibu kota, memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menyediakan model pendidikan vokasi inklusif yang bisa ditiru daerah lain.

Dampak dari pelatihan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh ekosistem dunia usaha di Jakarta. Beberapa lulusan SLBN 02 sudah terserap di sektor perhotelan, supermarket, hingga usaha penjahitan seragam guru. Keberadaan mereka membuktikan bahwa dengan pembinaan tepat, penyandang disabilitas mampu berkontribusi produktif di berbagai lini pekerjaan.

Bagi industri di Indonesia, model SLBN 02 menunjukkan bahwa inclusivity bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan peluang untuk memperluas basis talenta. Perusahaan yang selama ini ragu membuka lowongan bagi difabel kini memiliki referensi nyata tentang jenis keterampilan yang bisa dikembangkan sejak bangku sekolah.

Tantangan terbesar dalam proses pembimbingan tetap ada di level teknis harian. Astri Pebriyanti, guru seni SLBN 02, mengungkapkan bahwa komunikasi dan pengaturan suasana hati siswa menjadi ujian utama. Membatik, misalnya, berlangsung dari pukul 07.30 hingga 14.00 WIB dan rawan memicu kebosanan serta kelelahan.

Proses batik tulis yang diajarkan membutuhkan ketelitian tinggi. Siswa mulai dari menggambar di kertas, memindahkan ke kertas roti, lalu ke kain, dicanting, diwarnai tiga hingga empat kali, ditutup lilin kembali, dicuci, dikeringkan, dan diwarnai ulang. Astri mencatat satu karya batik tulis bisa memakan waktu hingga tiga bulan bila dikerjakan rutin tiga kali seminggu.

Hasil karya tersebut telah dipamerkan dan dijual dengan harga mulai Rp200.000 untuk batik ciprat, sementara batik tulis dibanderol Rp200.000 hingga Rp400.000. Selisih harga itu mencerminkan lamanya pengerjaan dan fakta bahwa produk tersebut murni buatan siswa sendiri tanpa bantuan mesin.

Ke depan, sekolah berharap semakin banyak industri yang secara aktif merekrut lulusan berkebutuhan khusus. Astri menegaskan bahwa pembukaan peluang kerja nyata dari perusahaan menjadi kunci agar pelatihan vokasi tidak berhenti sebagai kegiatan kelas, tetapi benar-benar terimplementasi di dunia kerja.

Langkah berikutnya yang krusial adalah kolaborasi antara dinas pendidikan, dinas ketenagakerjaan, dan kamar dagang lokal untuk menciptakan jalur magang inklusif. Tanpa jembatan itu, keterampilan yang sudah dibangun sejak sekolah berisiko tidak terserap optimal oleh pasar kerja Jakarta maupun nasional.

Mengapa Ini Penting

Model vokasi SLBN 02 menunjukkan bahwa investasi keterampilan sejak sekolah dasar menengah dapat menekan angka pengangguran difabel yang selama ini tinggi. Keberhasilan penyerapan lulusan di hotel dan ritel membuka argumen bagi pemerdaerah lain untuk mereplikasi skema serupa dengan melibatkan UMKM lokal. Tanpa integrasi antara sekolah, dinas ketenagakerjaan, dan industri, program inklusif berisiko hanya menjadi kegiatan simbolis. Masyarakat luas perlu melihat ini sebagai bukti bahwa disabilitas bukan halangan produktivitas bila akses dan pelatihan tersedia merata.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit