Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil sebagai bukti nyata bahwa sejumlah sentimen negatif terhadap perekonomian nasional tidak terbukti. Penilaian itu diumumkan S&P melalui laporan bertajuk "Indonesia Ratings Affirmed At 'BBB/A-2'; Outlook Stable" yang dirilis baru-baru ini.
Menurut Purbaya, sejak awal tahun pemerintah selalu dikejar berita negatif — mulai dari spekulasi penurunan rating, isu penganggaran yang dinilai brutal, hingga kecemasan soal keberlanjutan kebijakan fiskal. Kesan yang terbangun di pasar adalah peringkat utang Indonesia berpotensi diturunkan, bukan sekadar outlook-nya saja. Afirmasi S&P kali ini, kata dia, memutus rantai narasi pesimis tersebut.
Latar belakang kepercayaan ini tidak terlepas dari diplomasi ekonomi yang digelar pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ke Amerika Serikat pada April lalu. Delegasi yang dipimpin Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun dan Wakil Ketua Mohamad Hekal bertemu langsung dengan investor serta tim analis S&P. Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan gambaran nyata bahwa dinamika hubungan eksekutif-legislatif di Indonesia berjalan harmonis, jauh dari polarisasi yang sering dihadapi negara berkembang lain.
Purbaya menegaskan, kesatuan antara DPR dan Pemerintah menciptakan keyakinan bagi lembaga pemeringkat internasional bahwa kebijakan ekonomi Indonesia memiliki kesinambungan, bersifat utuh, dan bertujuan memakmurkan rakyat tanpa melanggar kerangka hukum yang ada. "DPR dengan Pemerintah adalah satu kesatuan yang baik," ujarnya saat menanggapi pandangan fraksi di Rapat Paripurna DPR Ke-25 Masa Persidangan V, Selasa.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya juga mengapresiasi keputusan S&P. Menurutnya, afirmasi ini mencerminkan terjaganya kepercayaan global terhadap stabilitas makroekonomi dan kebijakan moneter yang konsisten. BI menilai prospek stabil outlook menjadi sinyal positif bagi aliran modal portfolio dan investasi langsung ke pasar domestik.
Dampak praktis afirmasi rating ini signifikan bagi struktur biaya pinjam pemerintah dan korporasi. Rating BBB dengan outlook stabil mempertahankan status investment grade Indonesia, memastikan obligasi sovran tetap layak dibeli oleh dana pensiun, asuransi, dan manajer aset global yang memiliki mandat ketat soal kualitas kredit. Hal ini menopang rendahnya yield obligasi pemerintah (SUN) dan menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Bagi ekosistem teknologi finansial dan startup domestik, stabilitas rating sovran berfungsi sebagai "anchor" kepercayaan investor venture capital dan private equity asing. Ketika risiko negara terkontrol, premi risiko (country risk premium) dalam model valuasi menurun, mempermudah penggalangan dana seri B ke atas bagi unicorn dan soonicorn Indonesia. Beberapa fond global justru menunggu momen affirmasi rating sebelum mengeksekusi komitmen investasi baru.
Analis pasar modal mengamati, affirmasi S&P kali ini berbeda dengan siklus sebelumnya karena didukung bukti nyata disiplin fiskal — realisasi defisit APBN 2024 tercatat 2,29% PDB, di bawah batas 3% UU APBN. S&P secara eksplisit menyebutkan kekuatan eksternal, beban utang yang terbatas, dan pertumbuhan ekonomi yang tangguh sebagai pilar penilaian. Fitch Ratings dan Moody's yang masing-masing menilai BBB dan Baa2 dengan outlook stabil memperkuat konsensus trilogi rating.
Purbaya berharap momentum ini menjadi katalisator perubahan narasi di kalangan masyarakat dan pelaku pasar. "Kita bisa mulai lebih berani menceritakan sentimen positif ke masyarakat, ke pasar modal, termasuk rupiah bahwa kita ke depan tinggal maju saja tidak mundur lagi," tegasnya. Frasa "Indonesia tidak Indonesia cemas tapi Indonesia menuju ke Indonesia emas" menjadi tagline yang ia tanamkan sebagai kompas arah kebijakan ke depan.
Ke depan, tantangan utama adalah mempertahankan disiplin fiskal di tengah tekanan pengeluaran proteksi sosial, subsidi energi, dan pembangunan infrastruktur strategis. Sinergi DPR-Pemerintah dalam menyusun APBN 2026 akan menjadi uji nyata apakah komitmen prudent policy benar-benar terwujud atau hanya retorika musiman. Pasar akan memantau komposisi belanja modal versus belanja konsumtif, serta realisasi penerimaan pajak yang masih di bawah target.
Dalam konteks geopolitik, affirmasi rating ini memperkuat posisi tawar Indonesia di forum multilateral seperti G20, OECD, dan negosiasi perjanjian investasi bilateral. Rating investasi grade memudahkan akses ke fasilitas pembiayaan berjangka panjang dari World Bank, ADB, dan New Development Bank dengan spread yang lebih kompetitif dibanding negara non-investment grade.
Bagi masyarakat awam, implikasi paling terasa adalah stabilitas harga barang kebutuhan dan peluang lapangan kerja. Ketika biaya pinjam negara rendah, anggaran subsidi dan bantuan sosial lebih efisien, sementara investasi masuk menciptakan lapangan kerja berkualitas. Narasi "Indonesia Emas" yang digagas Purbaya harus diterjemahkan ke dalam indikator nyata: rasio utang ke PDB menurun, rasio pajak ke PDB naik, dan Gini ratio yang merata.