Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengucapkan selamat tinggal kepada anggota parlemen dalam sesi Pertanyaan kepada Perdana Menteri terakhirnya pada Rabu waktu setempat, sekaligus berjanji memberikan dukungan penuh kepada penggantinya, Andy Burnham. Burnham akan secara resmi menggantikan Starmer sebagai perdana menteri pada Senin mendatang setelah memenangkan dukungan mayoritas dari fraksi Partai Buruh.
Penampilan Starmer di House of Commons berlangsung emosional. Ia menegaskan ingin pemerintahan Partai Buruh tetap sukses di tangan pemimpin berikutnya. "Saya ingin pemerintahan Buruh ini sukses. Saya ingin negara kita sukses. Saya akan memberikan dukungan secara pribadi jika diminta, tidak secara publik jika tidak diminta," ujar Starmer di hadapan para anggota parlemen.
Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan lalu setelah berbulan-bulan mendapat tekanan akibat sejumlah skandal, kesalahan langkah, dan pembalikan kebijakan. Ia hanya menjabat perdana menteri selama dua tahun, padahal Partai Buruh menang telak dalam pemilu 2024 usai 14 tahun berada di oposisi. Masa kepemimpinannya tergolong singkat dibandingkan siklus politik di negara tersebut.
Burnham dipastikan menjadi pemimpin Partai Buruh pada Jumat ini sebelum mengambil alih kursi perdana menteri. Mantan Wali Kota Greater Manchester selama sembilan tahun itu meraih dukungan luas dari 403 anggota parlemen partai serta serikat pekerja besar. Karena Buruh memiliki mayoritas di parlemen 650 kursi, Burnham otomatis akan menjadi perdana menteri berikutnya.
Sesi PMQs pekan ini tidak seperti biasanya yang kerap keras dan penuh serangan opposition. Para anggota parlemen lintas partai menyampaikan apresiasi atas pengabdian Starmer. Mereka bahkan menyempatkan lelucon agar sang perdana menteri keluar membantu Inggris menang atas Argentina di semifinal Piala Dunia malam harinya.
Pemimpin oposisi dari Partai Konservatif, Kemi Badenoch, tetap melontarkan sindiran. Ia bercanda bahwa Starmer terlalu sibuk menertawakan konflik internal partainya sendiri ketimbang mengawasi backbencher partai Buruh. Badenoch menambahkan bahwa mengganti perdana menteri bukan solusi ajaib, dan masalah mendasar negara butuh keputusan sulit.
Bagi pembaca Indonesia, pergantian perdana menteri Inggris menunjukkan betapa dinamisnya stabilitas politik di negara dengan sistem parlementer. Dalam satu dekade terakhir, Inggris telah memiliki tujuh perdana menteri. Kondisi ini kontras dengan Indonesia yang cenderung lebih stabil dalam siklus kepemimpinan nasional, kendati tetap menghadapi turbulensi di level kabinet.
Polarisasi dan tekanan internal partai juga relevan dengan dinamika politik Tanah Air. Di Indonesia, pergantian pucuk pimpinan biasanya terjadi melalui pemilu lima tahunan, namun reshuffle dan konflik internal kerap mengganggu konsistensi kebijakan. Sistem yang lebih kaku di Indonesia membuat transisi tidak sedramatis di Inggris, namun tidak otomatis menjamin efektivitas pemerintahan.
Starmer meninggalkan parlemen dengan tepuk tangan berdiri dari banyak anggota. Ia menyebut ini akhir dari perjalanan politiknya dan memuji capaian dua tahun pemerintahannya. "Saya meninggalkan negara dalam kondisi lebih baik daripada saat saya menerimanya. Saya bangga atas semua yang kami capai," kata Starmer sebelum mengakhiri dengan ucapan selamat tinggal.
Burnham dijadwalkan bertemu Raja Charles III pada Senin untuk proses pelantikan formal. Ia akan menjadi perdana menteri ketujuh dalam sepuluh tahun terakhir, mencerminkan volatilitas politik pasca-Referendum Brexit yang terus membayangi Inggris.
Ke depan, fokus Burnham akan tertuju pada pemulihan kepercayaan publik dan penyelesaian krisis domestik yang belum tuntas. Dengan dukungan penuh dari serikat pekerja dan fraksi mayoritas, ia memiliki ruang gerak legislatif yang lebar. Namun tantangan ekonomi dan ekspektasi tinggi masyarakat akan segera menguji kepemimpinannya.
Perubahan di London juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan luar negeri Inggris, termasuk terhadap Iran dan konflik Gaza, yang sebelumnya menuai kritik internal Partai Buruh. Bagi Indonesia, hal ini relevan mengingat posisi Inggris sebagai mitra dagang dan diplomatik penting di kawasan Asia-Pasifik melalui kerangka CPTPP.