Tim panjat tebing Indonesia menutup World Climbing Series Chamonix 2026 di Prancis dengan catatan gemilang. Mereka membawa pulang dua medali emas dan satu perak. Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Veddriq Leonardo naik podium tertinggi, sementara Antasyafi Robby Al Hilm harus puas di posisi runner-up.
Prestasi ini bukan sekadar tambahan piala di lemari kemenangan Merah Putih. Keberhasilan di Chamonix menegaskan dominasi Indonesia dalam nomor speed putri dan putra di level dunia. Desak Made bahkan mencatatkan gelar juara beruntun setelah pekan sebelumnya merebut emas di Krakow, Polandia.
Di sisi lain, Veddriq Leonardo membuktikan dirinya masih menjadi raja speed putra Asia dan dunia. Emas di Prancis menjadi prestasi perdana atlet asal Kalimantan Barat itu usai meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024. Jeda waktu yang cukup panjang bagi Veddriq untuk kembali ke puncak akhirnya terbayar lunas.
Final nomor speed putra yang mempertemukan Veddriq dan Antasyafi menjadi panggung tersendiri. All-Indonesian final ini menunjukkan kedalaman bakat yang dimiliki Indonesia di cabang olahraga yang membutuhkan kecepatan, fokus, dan teknik presisi tinggi tersebut.
Kunci di balik raihan tersebut tidak lepas dari peran pemerintah melalui program pemusatan latihan nasional (pelatnas). Dukungan fasilitas, try out internasional, dan pembinaan berkelanjutan menjadi fondasi bagi atlet untuk beradaptasi dengan standar kompetisi global. Olahraga panjat tebing menuntut kesiapan fisik dan mental ekstrem, sehingga simulasi latihan yang matang sangat menentukan.
Keberhasilan di Chamonix juga memperlihatkan efektivitas alokasi anggaran olahraga pemerintah saat ini. Berbeda dengan era sebelumnya yang kerap diliputi ketidakpastian jadwal pelatnas, tahun 2026 menunjukkan ritme pembinaan yang konsisten. Hal ini krusial mengingat kalender kejuaraan dunia panjat tebing yang sangat padat.
Desak Made Rita Kusuma Dewi secara terbuka menyampaikan apresiasinya. "Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Presiden Prabowo dan Menpora yang selama ini mendukung kami untuk menjalankan pelatnas dan try out agar kita bisa berprestasi," ujar atlet asal Bali tersebut dalam keterangan resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Senada dengan Desak, Veddriq Leonardo menuturkan rasa syukurnya atas kemenangan yang tertunda cukup lama. Ia mengaku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang terus memberikan dukungan moral. Veddriq berharap pemerintah tidak menghentikan dukungan agar prestasi olahraga tanah air semakin mendunia.
Bagi ekosistem olahraga Indonesia, torehan di Chamonix membawa angin segar bagi industri pendukung. Klub panjat tebing lokal dan produsen peralatan olahraga dalam negeri mendapatkan motivasi untuk berinovasi. Ketertarikan generasi muda terhadap olahraga vertikal ini diprediksi melonjak tajam, seiring hadirnya figur inspiratif seperti Desak dan Veddriq.
Pencapaian ini juga menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk mulai memetakan potensi atlet di wilayah masing-masing. Panjat tebing tidak lagi sekadar olahraga komplemen, melainkan mesin pencetak medali emas di ajang multievent maupun kejuaraan dunia.
Menghadapi sisa musim kompetisi 2026, federasi panjat tebing diharapkan mempertahankan momentum. Fokus utama tentu saja pada regenerasi atlet dan pemeliharaan fasilitas pelatnas yang sudah ada. Tanpa konsistensi, dominasi Indonesia di nomor speed bisa dengan mudah tergerus oleh negara pesaing seperti China atau Amerika Serikat.
Langkah konkret berupa try out rutin dan pemantauan performa berbasis data harus terus berjalan. Kemenangan di Prancis adalah bukti bahwa investasi pada atlet adalah investasi prestasi yang menguntungkan nama baik bangsa.