Personel Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 725/Woroagi Koops TNI Habema berhasil mengungkap dua lokasi budidaya ganja di wilayah perbatasan Kabupaten Yahukimo. Penemuan ini diawali dari pengumpulan informasi lapangan yang dilakukan secara bertahap selama beberapa minggu terakhir. Prajurit kemudian menemanpuh perjalanan melewati medan pegunungan terjal dengan cuaca tidak menentu untuk mencapai kedua titik koordinat.
Di Kampung Kima Kompleks, tim mengamankan 3.000 batang tanaman ganja yang tumbuh subur di lahan tertutup hutan sekundernya. Sementara di Kampung Air Garam, sekitar 2.000 batang ditemukan bersama seunit busur dan 26 anak panah yang diduga milik penggarap. Seluruh barang bukti diamankan, didokumentasikan, dan dikumpulkan sesuai prosedur hukum yang berlaku sebelum diserahkan ke penyidik.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa operasi ini bukan aksi sepihak melainkan bagian dari sinergi terstruktur antara TNI, Polri, dan instansi terkait. Penyelidikan kini mengarah pada identifikasi jaringan di balik ladang-ladang tersebut, termasuk pelaku utama hingga jalur distribusi ke wilayah lain. Wirya menegaskan komitmen untuk melindungi generasi muda Papua dari ancaman narkotika.
Yahukimo dengan topografinya yang sulit dijangkau sejak lama jadi titik rawan penyembunyian budidaya gelap. Akses terbatas membuat pengawasan rutin sulit dilakukan oleh aparat. Kondisi ini dimanfaatkan oknum untuk menanam komoditas terlarang skala besar dengan risiko terdeteksi relatif rendah. Penemuan 5.000 batang sekaligus menandakan adanya organisasi yang terstruktur, bukan sekadar usaha individu.
Data BNN menunjukkan Papua secara konsisten masuk daftar provinsi dengan kasus penyalahgunaan dan peredaran narkotika tinggi di Indonesia Timur. Ganja tetap menjadi komoditas paling banyak disita di wilayah ini, diikuti sabu dan putauw. Budidaya lokal justru mempermudah pasokan murah yang merajalela ke kota-kota seperti Jayapura, Wamena, hingga Merauke melalui jalur darat dan udara.
Dampak sosialnya terasa di lapisan masyarakat paling rentan. Remaja di distrik terpencil sering jadi kurir atau tenaga tani paksa dengan imbalan uang cepat. Sekolah-sekolah di pedalaman melapor peningkatan absensi rendah dan perilaku aneh siswa yang diduga terpengaruh sirkulasi narkotika di lingkungan mereka. Penanganan hukum saja tidak cukup tanpa pendekatan pemberdayaan ekonomi desa.
Sisi positif, operasi ini membuktikan kemampuan intelijen lapangan TNI yang semakin tajam meskipun keterbatasan sarana. Pendekatan humanis — tidak melakukan penembakan sembarangan meski menemukan senjata tradisional — juga patut dicatat sebagai penerapan HAM di operasi keamanan. Pola ini harus dijadikan standar, bukan pengecualian.
Tantangan selanjutnya adalah memutus rantai pasokan hingga ke konsumen akhir. Penyidikan Polri harus cepat mengikat pelaku intellectual actor di balik lahan, bukan hanya petani kecil. Sementara itu, Pemda Yahukimo bersama BNN dan Kemenko PMK perlu mempercepat program alternatif penghidupan seperti budidaya kopi, kentang, atau sayuran bernilai ekonomi tinggi yang sudah cocok di dataran tinggi.
Penguatan pos-perbatasan dan patrol gabungan rutin juga krusial. Perbatasan RI-PNG di sektor ini panjang dan berpori, memungkinkan aliran barang terlarang dua arah. Teknologi drone pengintai dan sistem informasi geografis (SIG) pemetaan lahan terpencil bisa jadi force multiplier bagi personel yang terbatas jumlahnya.
Kasus Yahukimo mengingatkan bahwa perang narkotika di Indonesia tidak hanya berlangsung di pelabuhan atau bandara besar. Ladang-ladang tersembunyi di pegunungan Papua, hutan Kalimantan, hingga tepi danau Sulawesi menyuplai pasar domestik yang masif. Strategi pemberantasan harus turun ke akar masalah: kemiskinan, ketidakadilan akses pembangunan, dan kelemahan tata kelola wilayah perbatasan.