Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memerintahkan penyusunan opsi militer terhadap Kuba meski konflik Washington dengan Tehran kembali memanas dalam sepekan terakhir. Rencana itu mencakup kemungkinan serangan udara berskala besar yang melibatkan ribuan personel dari Divisi Lintas Udara ke-101, unit elite satu-satunya yang terlatih untuk misi penerjunan strategis.
Laporan CBS News yang mengutip pejabat pertahanan AS menyebutkan, perencana militer Pentagon mulai meneliti berbagai skenario intervensi ke Kuba, termasuk pengerahan ribuan tentara dan aset udara tempur. Namun, pejabat tersebut menegaskan bahwa kajian tersebut belum menyimpulkan keputusan final untuk meluncurkan operasi bersenjata ke pulau Karibia itu.
Ketegangan antara AS dan Iran memburuk setelah gencatan senjata yang sebelumnya disepakati justru dibarengi serangan udara habis-habisan ke sistem peluncur rudal jelajah Iran, termasuk insiden penembakan kapal tanker. Washington juga menggelontorkan paket senjata senilai Rp44 triliun ke Saudi Arabia dan Kuwait di tengah eskalasi perang. Situasi itu membuat sumber daya militer AS terkonsentrasi di Timur Tengah.
Kuba bukanlah target baru bagi Trump. Sejak kembali menduduki Gedung Putih untuk periode kedua, ia menjadikan negara komunis di Karibia sebagai sasaran tekanan diplomatik dan finansial. Ia bahkan pernah menyatakan bahwa intervensi ke Kuba sempat masuk dalam pertimbangan internal pemerintahannya.
Pada awal tahun ini, AS lebih dulu melancarkan agresi militer ke Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, yang kini mendekam di penjara di New York. Sebulan berselang, pada Februari, Washington melancarkan serangan gabungan dengan Israel ke Iran sehingga memicu perang meluas yang belum mereda hingga saat ini.
Setiap langkah militer ke Kuba dipastikan menghadapi rintangan logistik berat. Pesawat angkut, satelit intelijen, dan kapal perang AS saat ini tertuju ke operasi Timur Tengah. Sumber Anadolu Agency menyebut tindakan terhadap Kuba tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat karena alih daya pertahanan ke Iran masih berjalan penuh.
Bagi Indonesia, manuver militer AS di dua belahan dunia sekaligus menunjukkan betapa cepatnya Washington membentuk front konflik ganda. Hal ini relevan dengan posisi Jakarta yang selalu menekankan kemandirian diplomasi dan menolak keterlibatan dalam blok kekuasaan mana pun. Kehadiran pangkalan atau operasi AS di dekat Asia Tenggara kerap menjadi perhatian strategis TNI.
Dampak tidak langsung bagi masyarakat Indonesia berupa fluktuasi harga energi. Perang Iran telah mengerek harga minyak global, dan jika Kuba masuk dalam skenario perang baru, tekanan pasokan minyak sawit serta biaya logistik impor bisa bertambah. Pelaku usaha domestik perlu mengantisipasi volatilitas rupiah akibat ketidakpastian keamanan internasional.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio terus mendorong transisi diplomatik menuju pemerintahan teknokrat di Kuba yang bersedia melakukan reformasi ekonomi. Upaya itu terhenti meski AS meningkatkan tekanan finansial ke militer Kuba dan konglomerat negara tersebut. Pekan lalu Rubio menuding rezim dan elit korup Kuba menolak reformasi serta melanggengkan kendali total berpegang pada ideologi Marxis yang disebutnya bangkrut secara moral.
Perencanaan serangan ke Kuba menunjukkan bahwa Washington tidak kehilangan ambisi proyeksi kekuatan di luar Timur Tengah. Namun, dengan aset tempur terikat di Iran, ruang gerak Pentagon sangat terbatas. Retorika agresif Rubio pun belum diikuti tindakan nyata di lapangan.
Ke depan, fokus militer AS diprediksi tetap tertuju ke Iran hingga kestabilan regional tercapai. Kuba akan tetap menjadi target tekanan non-kinetik melalui sanksi dan isolasi ekonomi. Jika perang Iran mereda, opsi intervensi Kuba bisa kembali dibuka meski dengan risiko politik internasional yang tinggi.
Indonesia dan negara berkembang lainnya akan terus memantau eskalasi ganda ini. Diplomasi multilateral melalui ASEAN dan PBB menjadi saluran penting agar krisis tidak meluas ke wilayah Asia Pasifik. Stabilitas keamanan global menjadi prasyarat pemulihan ekonomi pasca-gejolak energi dunia.