Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah meminta perencana militer menyusun opsi intervensi ke Kuba, termasuk serangan udara berskala besar, meski konflik dengan Iran kembali memuncak dalam sepekan terakhir. Rencana itu melibatkan ribuan personel Divisi Lintas Udara ke-101, unit elite satu-satunya yang terlatih untuk misi penerjunan udara strategis.
Laporan CBS News yang mengutip pejabat pertahanan AS menyebutkan, Pentagon meneliti berbagai skenario terhadap Kuba sebagai bagian dari tindakan keras diplomatik dan militer. Opsi serangan udara masuk dalam daftar meski belum ada keputusan resmi dari Gedung Putih maupun markas pertahanan.
Namun, pejabat AS menegaskan bahwa penyusunan opsi tersebut belum berarti operasi militer ke Kuba akan diluncurkan. Tantangan utama adalah alihnya sumber daya militer Negeri Paman Sam ke Teheran, tempat operasi baru saja digencarkan meski gencatan senjata dan nota kesepahaman sudah diteken.
Kuba menjadi sasaran politik luar negeri Trump sejak masa jabatan kedua dimulai. Ia pernah menyatakan AS mempertimbangkan intervensi ke pulau Karibia itu, sejalan dengan tekanan finansial ke militer dan konglomerat setempat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendukung transisi menuju pemerintahan teknokrat, namun upaya diplomatik terhenti karena rezim menolak reformasi ekonomi.
Rubio pekan lalu menyebut elit korup Kuba terus menolak perubahan dan berpegang pada ideologi Marxis yang disebutnya bangkrut secara moral. Pernyataan itu mempertegas garis keras Washington terhadap Havana yang sudah berlangsung sejak era perang dingin.
Dari sudut pandang keamanan global, potensi pembukaan front kedua di Kuba memperlihatkan beban logistik militer AS yang semakin tipis. Pesawat, aset intelijen, dan kapasitas proyeksi kekuatan saat ini terkonsentrasi di Timur Tengah, sehingga tindakan ke Kuba dinilai mustahil dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, geseran postur militer AS di Belahan Barat berimplikasi pada stabilitas ekonomi global. Harga energi dan rantai pasok dapat tertekan bila ketegangan Kuba–AS memicu krisis sekunder di Amerika Latin. Sebagai negara nonblok, Jakarta biasanya menyerukan deeskalasi tanpa campur tangan, namun volatility di dua benua sekaligus membatasi ruang manuver diplomasi.
Perbandingan dengan situasi domestik tampak pada ketahanan logistik. Indonesia mengandalkan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan untuk perdagangan; bila AS mengalihkan armada ke Karibia, pengawasan maritim internasional di Asia Pasifik berisiko longgar. Hal ini mendorong percepatan modernisasi alutsista TNI agar tidak bergantung pada kehadiran angkatan laut asing.
“Rezim dan elit korup Kuba terus menolak reformasi serta melanggengkan kendali total,” ucap Rubio dalam pernyataan resmi pekan lalu. Ia menambahkan bahwa ideologi Marxis di negara tersebut tidak lagi relevan secara moral maupun ekonomi.
Sumber pertahanan AS mengonfirmasi setiap opsi ke Kuba tertunda karena kemampuan tempur dialihkan ke Iran. Serangan gabungan dengan Israel ke Teheran pada Februari lalu memicu perang meluas yang belum mereda hingga saat ini, menyita perhatian intelijen dan komando strategis Washington.
Ke depan, rencana invasinya kemungkinan besar akan mengendap di meja perencana selama operasi Iran berjalan. Namun, bila gencatan senjata di Timur Tengah bertahan, Gedung Putih dapat mengeksekusi tekanan ke Havana melalui jalur nonmiliter terlebih dulu, seperti sanksi sektoral dan isolasi diplomatik.
Tren kebijakan luar negeri Trump menunjukkan preferensi intervensi langsung di negara yang dianggap bermusuhan. Setelah agresi ke Venezuela awal tahun untuk menangkap Nicolas Maduro, pola serupa ke Kuba menguat. Dinamika ini akan terus menguji keseimbangan kekuatan di Amerika Latin dan Timur Tengah secara bersamaan.
Perspektif Indonesia: Masyarakat dalam negeri perlu memantau dampak tidak langsung berupa fluktuasi harga komoditas dan devisa. Produk ekspor seperti kelapa sawit dan batu bara rentan terhadap gangguan rantai pasok bila AS–Kuba memanas. Pemerintah dapat memperkuat kerja sama Selatan–Selatan guna meredam kejatuhan permintaan dari pasar Barat yang tak stabil.