Nasional

UI dan University of Sydney Perkuat Kolaborasi Riset dan Talenta Global

Ringkasan

  • Universitas Indonesia (UI) menandatangani perjanjian kerjasama strategis dengan The University of Sydney untuk membangun ekosistem riset dan pertukaran talenta berskala global, memperluas akses sivitas akademika ke jaringan internasional.

Universitas Indonesia (UI) resmi memperkuat jejaring globalnya melalui penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan The University of Sydney, Australia. Kesepakatan ini ditandatangani oleh Rektor UI Heri Hermansyah dan Wakil Rektor (Deputy Vice-Chancellor) University of Sydney, Prof. Emma Johnston, dalam upacara yang berlangsung di Kampus UI Depok, Jawa Barat, pada hari Rabu (15/1).

Kerjasama ini mencakup tiga pilar utama: pertukaran mahasiswa dan staf pengajar, penelitian bersama (joint research), serta pengembangan program akademik ganda (double degree). Fokus riset bersama akan difokuskan pada bidang kesehatan masyarakat, ilmu data, keberlanjutan lingkungan, serta kecerdasan buatan — sektor-sektor yang dinilai strategis bagi pembangunan kedua negara.

Latar belakang kolaborasi ini tak terlepas dari kebijakan Kampus Merdeka yang mendorong perguruan tinggi Indonesia memperluas jaringan internasional. UI, sebagai perguruan tinggi tertua dan paling bergengsi di Indonesia, telah lama menjalin hubungan dengan institusi terkemuka di Asia-Pasifik. University of Sydney sendiri menempati peringkat 19 global menurut QS World University Rankings 2025, menjadikannya mitra berat di benua Australia.

Dalam konteks geopolitik pendidikan tinggi, Australia telah lama menjadi destinasi utama mahasiswa Indonesia. Data Australian Department of Education menunjukkan lebih dari 20.000 mahasiswa Indonesia belajar di Australia pada 2023. Kesepakatan ini diharapkan merampingkan alur mobilitas akademik, mengurangi hambatan administrasi, serta memastikan pengakuan kredit (credit transfer) yang lebih lancar bagi mahasiswa UI.

Dampak strategis kolaborasi ini melampaui sekadar pertukaran mahasiswa. Bagi ekosistem riset Indonesia, akses ke fasilitas laboratorium canggih dan dana penelitian kompetitif Australia — seperti Australian Research Council (ARC) — membuka peluang peningkatan kualitas publikasi internasional. UI sendiri menargetkan peningkatan indeks sitasi (citation index) dan jumlah publikasi di jurnal Q1 hingga 2029.

Di sisi industri, program double degree di bidang ilmu data dan kecerdasan buatan menjawab kebutuhan talenta digital yang masif. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia kekurangan 9 juta talenta digital hingga 2030. Lulusan program kolaboratif ini diharapkan siap mengisi kekosongan di sektor teknologi, keuangan digital, dan startup — mesin pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$ 130 miliar tahun 2025.

Namun, tantangan nyata tetap ada. Biaya pendidikan di Australia tetap tinggi bagi mayoritas mahasiswa Indonesia, meskipun beasiswa seperti Australia Awards dan beasiswa spesifik UI-Sydney tersedia. Sementara itu, perbedaan kalender akademik dan sistem kredit (SKS vs credit points) memerlukan harmonisasi teknis yang rumit. UI berkomitmen menyediakan tim khusus untuk mengelola transisi ini.

Rektor UI Heri Hermansyah menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar formalitas. "Kami ingin menciptakan jalur dua arah yang berkelanjutan, di mana peneliti dan mahasiswa Sydney juga mendapatkan akses ke data lapangan dan konteks lokal Indonesia yang kaya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa UI akan mendorong penelitian bersama yang mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim dan pandemi, di mana Indonesia memiliki keunikan geografis dan demografis.

Prof. Emma Johnston dari University of Sydney menyambut antusias. "Indonesia adalah negara kunci di Indo-Pasifik. Keanekaragaman hayati, data iklim tropis, dan dinamika urbanisasi cepat di Jakarta serta sekitarnya menjadi laboratorium alami yang tak ternilai bagi peneliti kami," katanya. Ia mengungkapkan rencana pembukaan kantor perwakilan (liaison office) UI di Sydney untuk memperlancar koordinasi.

Ke depan, kedua pihak menargetkan peluncuran program double degree pertama pada semester genap 2025/2026, dimulai dengan program Magister Ilmu Data dan Magister Kesehatan Masyarakat. UI juga menyiapkan skema "sandwich program" untuk doktoran, memungkinkan mahasiswa melakukan penelitian di Sydney selama 12-18 bulan dengan biaya ditanggung skema beasiswa bersama.

Secara makro, kolaborasi UI-Sydney menjadi teladan bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa memanfaatkan diplomasi pendidikan (education diplomacy) untuk naik kelas. Bagi mahasiswa dan peneliti Indonesia, pintu ke ekosistem inovasi global kini semakin terbuka lebar — tidak hanya sebagai pengunjung, tapi sebagai mitra setara yang berkontribusi pada pengetahuan dunia.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi UI-Sydney bukan sekadar MoU ceremonial — ini adalah gerbang bagi talenta Indonesia mengakses ekosistem riset dan industri Australia yang matang. Bagi negara yang kekurangan 9 juta talenta digital, program double degree di AI dan data science menciptakan jalur cepat (fast-track) menghasilkan lulusan siap kerja global. Lebih jauh, ini mengubah narasi: Indonesia bukan lagi hanya 'pengirim mahasiswa', tapi mitra riset yang menyumbangkan data tropis dan konteks lokal yang krusial untuk ilmu pengetahuan dunia. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi ke perguruan tinggi lain, mempercepat naik kelas sistem pendidikan tinggi nasional secara sistemik.

Sumber Asli
Tempo Nasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit