Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menampilkan kontribusi nyata dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bersama Kalimantan Universities Consortium (KUC)–Borneo Studies Network (BSN) Tahun 2026. Delegasi ULM berjumlah dua orang, dipilih dari Fakultas Perikanan dan Kelautan serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, bergabung dengan total 34 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi anggota KUC.
Kegiatan yang berlangsung di IKN ini diresmikan dan didukung oleh sejumlah stakeholder strategis. LLDIKTI Wilayah XI, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badan Standardisasi Nasional, serta Otorita Ibu Kota Nusantara turut terlibat dalam menyusun kerangka kolaborasi. Wakil Rektor IV ULM, Yusuf Azis, menegaskan bahwa program ini merupakan implementasi konkret dari tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang dikemas secara kolaboratif lintas kampus.
Pemilihan mahasiswa tidak dilakukan secara acak. M. Yusuf dari Fakultas Perikanan dan Kelautan serta Muhammad Rizqi Aulia Ramadhan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ditempatkan pada kedeputian dan direktorat Otorita IKN yang selaras dengan keilmuan mereka. Pendekatan "living lab" yang diadopsi program ini memungkinkan mahasiswa bekerja langsung di lingkungan kerja nyata, bukan sekadar observasi lapangan.
Skema penempatan ini dirancang untuk memaksimalkan transfer pengetahuan. Setiap mahasiswa ditugaskan ke direktorat yang relevan dengan program studinya, menciptakan keselarasan antara keahlian akademik dan kebutuhan praktis pembangunan IKN. Dosen pembimbing lapangan, Ira Pusphita Sari, Wakil Dekan FPIK ULM, mengawasi proses belajar dan kontribusi mahasiswa secara langsung di lokasi.
Akomodasi pun disesuaikan dengan peran masing-masing. Mahasiswa menginap di tower hunian pekerja, sedangkan dosen pembimbing ditempatkan di tower ASN. Arsitektur penempatan ini sengaja dirancang agar mahasiswa merasakan ritme keharian aparatur dan pekerja di IKN, memperkaya pengalaman lintas budaya dan lintas profesi yang sulit didapat di ruang kelas.
Kolaborasi antar perguruan tinggi di Kalimantan melalui KUC dan BSN sudah berjalan beberapa tahun, namun ini kali pertama KKN berskala konsorsium diletakkan di IKN. Sebelumnya, ULM pernah mengirim mahasiswa ke KKN internasional di Jepang serta program KKN Wasaka yang fokus pada kesenjangan pendidikan dan stunting di wilayah pedalaman. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memastikan program di IKN berjalan dengan standar yang lebih matang.
Bagi mahasiswa, nilai tambah program ini melampaui kredit semester. Mereka terpapar langsung pada dinamika birokrasi, perencanaan kota, dan tantangan keberlanjutan di proyek nasional strategis. Interaksi dengan mahasiswa dari universitas lain di Kalimantan juga membangun jaringan profesional sejak dini — aset yang krusial di era kolaborasi lintas disiplin.
Dari sisi Otorita IKN, kehadiran mahasiswa dari perguruan tinggi Kalimantan menjawab kebutuhan tenaga muda yang memahami konteks lokal Pulau Borneo. IKN tidak dibangun di lahan kosong; ia berada di tengah ekosistem sosial, budaya, dan lingkungan yang kaya. Mahasiswa asal Kalimantan membawa perspektif tempatan yang sering terlewat dalam perencanaan top-down.
Program ini juga menguji kemampuan perguruan tinggi daerah dalam menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan nasional. ULM, sebagai universitas tertua di Kalimantan Selatan, dituntut untuk membuktikan relevansi lulusannya di proyek abad ke-21. Sukses tidaknya KKN ini akan menjadi indikator seberapa jauh perguruan tinggi daerah siap berperan dalam transformasi struktur ekonomi dan tata kelola negara.
Kedepan, Yusuf Azis berharap program KKN Bersama KUC-BSN di IKN berkelanjutan dan berkembang. Potensi kolaborasi penelitian bersama, magang terstruktur, hingga penempatan alumni di Otorita IKN terbuka lebar. Kunci keberlangsungan ada pada evaluasi berbasis bukti — bukan sekadar jumlah peserta, melainkan dampak nyata bagi mahasiswa, kampus, dan pembangunan IKN itu sendiri.
Sebagai catatan, IKN saat ini memasuki tahap percepatan pembangunan infrastruktur fisik dan pengaturan tata kelola. Kehadiran akademisi muda dari Kalimantan di tengah proses ini bukan sekadar simbolisme. Ia menandakan pergulatan nyata untuk memastikan ibu kota baru tidak hanya megah secara fisik, namun juga cerdas, inklusif, dan berakar pada kearifan lokal Nusantara.