Nasional

UMW Kendari Luncurkan Program Sehati-Remaja: Edukasi Kesehatan Ginjal untuk Generasi Muda

Ringkasan

  • Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari meluncurkan program Sekolah Sehat Ginjal Remaja (Sehati-Remaja) untuk mendidik siswa menjaga kesehatan ginjal sejak dini melalui pendekatan berbasis sekolah, teknologi digital, dan pemberdayaan kader siswa.

Kendari, Sulawesi Tenggara — Universitas Mandala Waluya (UMW) Kendari menggelar inovatif berbasis sekolah bernama Sekolah Sehat Ginjal Remaja (Sehati-Remaja) untuk menanggulangi peningkatan kasus gangguan ginjal pada usia produktif. Program ini diluncurkan sebagai respons atas data kesehatan yang menunjukkan tren peningkatan penderita gagal ginjal kronis di kalangan usia muda di Indonesia, yang sering terdeteksi terlambat akibat minimnya literasi kesehatan sejak remaja.

Ketua Tim Pelaksana Program UMW Kendari, Asbath Said, mengemukakan bahwa pencegahan gangguan ginjal tidak dapat ditunda hingga usia dewasa. "Edukasi harus dimulai sejak remaja, terutama melalui lingkungan sekolah sebagai pusat pembentukan karakter dan kebiasaan hidup," ujarnya saat wawancara di Kendari, Minggu lalu. Pendekatan ini sejalan dengan strategi promotif dan preventif yang digalakkan Kementerian Kesehatan untuk menurunkan beban penyakit tidak menular (PTM) di negara ini.

Program Sehati-Remaja dirancang dengan metodologi komprehensif yang melampaui sekadar penyuluhan konvensional. Rangkaian intervensi mencakup pembentukan kader siswa sebagai agen perubahan, penyediaan buku saku edukatif, pengisian jurnal harian konsumsi cairan, hingga pemanfaatan teknologi melalui kode respons cepat (QR code) yang mengakses platform literasi digital berisi materi pembelajaran, video animasi, buku digital, dan kuis interaktif. Pemasangan papan monitoring perilaku sehat di area sekolah juga dilakukan untuk menciptakan lingkungan fisik yang mendukung perubahan perilaku.

Fokus utama intervensi ini menargetkan dua pola perilaku kritis di kalangan remaja: rendahnya konsumsi air putih dan tingginya konsumsi minuman berpemanis (Sugar-Sweetened Beverages/SSB). Penelitian epidemiologi menunjukkan korelasi kuat antara konsumsi SSB berlebihan dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi — tiga faktor pencetus utama gagal ginjal. Melalui jurnal harian, siswa dilatih mencatat volume minum air putih dan minuman berpemanis harian, memungkinkan guru dan tim UMW memantau perkembangan perilaku secara kuantitatif dan berkelanjutan.

Pemberdayaan kader siswa menjadi elemen kunci keberlanjutan program. Kader dilatih tidak hanya memahami materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi sebaya (peer education) untuk mengingatkan dan memotivasi teman sekelas. Model ini mengadopsi teori difusi inovasi di mana perubahan norma sosial di kalangan grup sebaya lebih efektif dibandingkan pendekatan top-down dari otoritas. Sekolah menyambut positif program ini karena dinilai memperkuat Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang selama ini sering terkendala keterbatasan sumber daya dan materi edukasi yang aktual.

Program Sehati-Remaja dibiayai melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Dukungan ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai mesin inovasi sosial yang menterjemahkan penelitian ke dalam solusi nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan unit pendidikan menciptakan ekosistem pentahelix yang diperlukan untuk intervensi kesehatan publik yang berdampak luas.

Dari perspektif sistem kesehatan, investasi pada edukasi promotif di usia sekolah jauh lebih efisien secara biaya dibandingkan penanganan terapeutik gagal ginjal stadium akhir yang mengandalkan hemodialisis atau transplantasi. Biaya perawatan gagal ginjal kronis per pasien per tahun dapat mencapai ratusan juta rupiah, membebani Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan ekonomi keluarga. Pencegahan sejak dini melalui modifikasi gaya hidup adalah strategi "best buy" yang direkomendasikan WHO untuk negara berkembang seperti Indonesia.

Ke depan, tim UMW berencana mengevaluasi dampak program melalui survei perilaku kesehatan longitudinal dan pemeriksaan fungsi ginjal sederhana (seperti urinalisis) pada siswa partisipan. Hasil evaluasi diharapkan menjadi bukti empiris untuk memperluas cakupan program ke kabupaten lain di Sulawesi Tenggara, serta dijadikan model replikasi bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Integrasi kurikulum kesehatan ginjal ke dalam muatan lokal (Muatan Lokal/Mulok) juga menjadi rekomendasi kebijakan yang akan diajukan ke Dinas Pendidikan Provinsi.

Inisiatif Sehati-Remaja menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pencetak tenaga kerja, tetapi juga sebagai katalis perubahan sosial yang responsif terhadap tantangan kesehatan publik kontemporer. Dengan memadukan pendekatan sains perilaku, teknologi digital, dan partisipasi masyarakat, program ini menawarkan template intervensi yang skalabel dan berkelanjutan untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan sadar akan vitalitas organ vital mereka sejak dini.

Mengapa Ini Penting

Program Sehati-Remaja menjawab krisis tersembunyi peningkatan gagal ginjal pada usia muda di Indonesia dengan strategi upstream yang hemat biaya. Model kolaborasi pentahelix antara akademisi, pemerintah, dan sekolah menciptakan template intervensi kesehatan publik yang dapat diskalakan nasional. Integrasi teknologi digital (QR code, jurnal digital) dengan pendekatan sains perilaku (peer education, self-monitoring) menawarkan inovasi metodologis bagi kampanye kesehatan lain. Keberhasilan program ini akan menentukan beban finansial JKN dan kualitas SDM Indonesia dua dekade mendatang.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit