Nasional

Vaksin Tifoid Karya Anak Bangsa Bio-TCV Resmi Diluncurkan BPOM

Ringkasan

  • Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meresmikan peluncuran Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat hasil inovasi anak bangsa yang dikembangkan melalui kolaborasi FKUI, RSCM, dan Bio Farma, sebagai langkah strategis menuju kemandirian vaksin nasional.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi meluncurkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama produksi dalam negeri. Vaksin ini menjadi tonggak baru dalam upaya mencapai kemandirian vaksin nasional.

Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan PT Bio Farma. Vaksin ini dirancang untuk memberikan imunisasi aktif terhadap demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi Salmonella typhi.

Vaksin ini dapat diberikan mulai bayi berusia enam bulan hingga orang dewasa. Dengan cakupan usia yang luas, Bio-TCV diharapkan memperkuat program imunisasi nasional sekaligus memperluas perlindungan bagi kelompok rentan terhadap penyakit tifoid.

Proses pengembangan Bio-TCV memakan waktu bertahun-tahun. FKUI dan RSCM memimpin pelaksanaan uji klinis fase I, II, hingga III dengan standar ilmiah dan etik yang ketat. Sementara itu, PT Bio Farma menempuh perjalanan panjang penguasaan teknologi melalui kemitraan dengan International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010, yang dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013.

BPOM berperan mengawal setiap tahapan pengembangan vaksin. Mulai dari pendampingan uji klinis, standardisasi produk, pengawasan proses produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Seluruh proses penilaian dilakukan melalui mekanisme accelerated review yang mempercepat proses regulasi tanpa mengurangi ketelitian ilmiah.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa Bio-TCV bukan sekadar vaksin tifoid konjugat hasil inovasi anak bangsa. Menurutnya, vaksin ini menjadi penanda bahwa Indonesia mulai memasuki babak baru pembangunan kesehatan. Riset, industri, dan pemerintah kini tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem inovasi.

Kehadiran Bio-TCV menjadi langkah strategis dalam membangun kemandirian sektor kesehatan nasional. Indonesia selama ini masih bergantung pada impor vaksin untuk memenuhi kebutuhan imunisasi. Dengan adanya vaksin produksi dalam negeri, ketahanan kesehatan nasional semakin kuat.

Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Tingkat insiden yang tinggi, terutama pada anak-anak dan remaja, membutuhkan upaya pencegahan yang efektif. Bio-TCV hadir sebagai solusi yang aman dan telah teruji secara klinis.

Bio-TCV juga diproyeksikan untuk menembus pasar internasional melalui proses WHO Prequalification. Apabila tahapan tersebut berhasil dilalui, vaksin ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang Indonesia menjadi bagian penting dalam rantai pasok vaksin global.

Kendati demikian, perjalanan menuju prekualifikasi WHO tidaklah mudah. Bio-TCV harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat internasional. BPOM telah melakukan pendampingan maksimal untuk memastikan vaksin ini memenuhi persyaratan global.

Keberhasilan Bio-TCV diharapkan menjadi model bagi pengembangan vaksin dan produk biologi lainnya di masa depan. Kolaborasi triple helix antara akademisi, industri, dan pemerintah terbukti mampu menghasilkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat.

Pemerintah optimistis bahwa dengan penguasaan riset, teknologi, produksi, dan sistem regulasi yang kredibel, Indonesia mampu menjadi pemain utama di industri vaksin dunia. Bio-TCV adalah bukti nyata bahwa anak bangsa bisa menciptakan produk kesehatan kelas dunia.

Mengapa Ini Penting

Peluncuran Bio-TCV bukan sekadar keberhasilan riset dalam negeri, melainkan fondasi bagi kemandirian industri vaksin Indonesia. Dengan potensi menembus pasar global melalui WHO Prequalification, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan impor vaksin sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok vaksin dunia. Inovasi ini juga membuktikan bahwa kolaborasi triple helix mampu menghasilkan produk berstandar internasional yang dapat diandalkan untuk program imunisasi nasional, khususnya dalam menekan angka kejadian demam tifoid yang masih tinggi di Indonesia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
18 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit