Nasional

Wakil Wali Kota Bontang Buka Pusdiklat Paskibraka 2026, Tekankan Integritas di Atas Kebanggaan

Ringkasan

  • Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris meresmikan Pusdiklat Paskibraka 2026 di Stadion Besai Berinta, Jumat (17/7), dan menegaskan bahwa mengibarkan Sang Merah Putih adalah amanah integritas, bukan sekadar kebanggaan sesaat.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris secara resmi membuka Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Bontang Tahun 2026 di Stadion Besai Berinta, Jumat (17/7). Acara ditandai dengan penyematan topi dan tanda peserta secara simbolis kepada dua perwakilan calon Paskibraka yang telah lolos seleksi ketat.

Dalam sambutannya, Agus Haris menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang berhasil melewati proses seleksi yang dinilai objektif dan kompetitif. Ia menekankan bahwa terpilih menjadi Paskibraka bukanlah puncak prestasi semata, melainkan amanah yang harus dijaga dengan disiplin, tanggung jawab, dan integritas yang teguh.

Latar belakang penguatan narasi integritas ini tak terlepas dari dinamika generasi muda di era digital. Di tengah hiruk pikuk informasi instan dan tekanan performa media sosial, nilai-nilai kebangsaan kerap tergeser oleh pencarian validasi sesaat. Pemerintah Kota Bontang melalui Kesbangpol sengat memposisikan Pusdiklat ini sebagai kontra-narasi: ruang pembentukan karakter yang mengedepankan proses dibanding hasil instan.

Agus Haris mengaitkan tugas mengibarkan Sang Merah Putih pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai bentuk penghormatan nyata kepada perjuangan para pahlawan. Lebih dari seremonial, ia menyebutnya amanah menjaga masa depan bangsa. "Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, karakter, dan semangat kebangsaan yang kuat," ujarnya tegas di hadapan para peserta dan undangan.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang dijadikan fondasi visi Bontang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Pusdiklat Paskibraka dipandang bukan sekadar latihan baris-berbaris, melainkan laboratorium kepemimpinan mini. Melalui rangkaian disiplin fisik, kerja sama tim, dan manajemen tekanan mental, peserta dilatih menjadi individu tangguh yang siap mengabdi.

Kehadiran jajaran pejabat kunci memperkuat legitimasi program ini. Turut hadir Kepala Badan Kesbangpol Kota Bontang Deddy Haryanto, Koordinator Pelatih Kodim 0908/Bontang Kapten Inf. Niko Katanni, Koordinator Pelatih Polres Bontang Ipda Susi Hendrawati, serta Koordinator Pelatih Batalyon Arhanud 7/ABC Letda Arh. Surya WH. Partisipasi TNI dan Polri dalam pelatihan menegaskan sinergi sipil-militer dalam pembentukan karakter bangsa.

Tak ketinggalan, kehadiran Purna Paskibraka Indonesia (PPI) menambah dimensi regenerasi. Para senior menjadi role model nyata bahwa integritas Paskibraka tidak berakhir saat topi merah dilepas, melainkan berkelanjutan seumur hidup. Orang tua peserta pun diundang menyaksikan, menguatkan dukungan sistem pendampingan dari lingkungan terdekat.

Agus Haris menyampaikan apresiasi penuh kepada seluruh pelatih, pembina, tenaga kesehatan, psikolog, panitia, guru, dan orang tua yang telah mendampingi putra-putri terbaik Kota Bontang hingga tahap ini. Ekosistem pendukung ini kritis: tanpa kesehatan fisik prima, ketahanan mental, dan dukungan emosional, proses pembentukan karakter rapuh dan mudah gugur.

Pesan penutupnya menyentuh inti filosofi ke-negaraan: "Merah Putih tidak hanya dikibarkan oleh tangan yang kuat, tetapi akan tetap berkibar karena dijaga oleh hati yang berintegritas." Kalimat ini merangkum esensi Pusdiklat kali ini — memindahkan fokus dari performa fisik ke kekuatan moral. Bagi 40 peserta yang terpilih, tantangan sesungguhnya baru dimulai: membuktikan integritas di setiap pilihan hidup, jauh setelah bendera dikibarkan.

Mengapa Ini Penting

Pusdiklat Paskibraka di Bontang ini signifikan karena memposisikan integritas sebagai KPI utama pembentukan generasi muda, bukan sekadar kebanggaan ceremonial. Model sinergi TNI-Polri-Kesbangpol-PPI-orang tua menciptakan ekosistem pendampingan holistik yang jarang diterapkan penuh di daerah lain. Jika berhasil, ini bisa jadi template pembentukan karakter berbasis bukti untuk kota-kota lain. Tantangannya: bagaimana memastikan nilai integritas ini bertahan di era algoritma yang memuji performa instan? Keberhasilan Bontang mengukir integritas di hati 40 pemuda ini akan diuji bukan di lapangan upacara, tapi di ruang rapat, media sosial, dan kotak suara kelak.

Sumber Asli
Tempo Nasional
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit