Nasional

Wali Kota Medan Imbau ASN Tetap Kerja Usai Nobar Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas mengimbau aparatur sipil negara tetap menjalankan tugas Senin pagi setelah mengikuti nonton bareng Final Piala Dunia 2026 bersama Menteri Meutya Hafid.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menyampaikan imbauan tegas kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Medan untuk tetap hadir bekerja pada Senin pagi, usai mengikuti acara nonton bareng Final Piala Dunia 2026 yang digelar pada dini hari. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri acara Nonton Bareng Final Piala Dunia 2026 bersama Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid di Medan, Sumatera Utara, Senin (13/7) dini hari.

"Jangan sampai enggak kerja ya. Jangan asalan nanti diajak Bu Menteri nobar, tapi enggak kerja besok," ujar Rico dengan nada santai namun tegas di hadapan puluhan peserta nobar. Wali Kota yang baru menjabat sejak Februari 2025 ini menegaskan bahwa eforia perhelatan sepak bola dunia tidak boleh menjadi alasan mengabaikan tanggung jawab profesional sebagai aparatur negara.

Acara nobar itu sendiri menjadi momen sejarah bagi penonton sepak bola Indonesia. Setelah 24 tahun absen sejak Piala Dunia 2002, TVRI kembali dipercaya menjadi official broadcaster perhelatan tertinggi FIFA. Menteri Meutya Hafid yang hadir di lokasi mengaku bangga dengan pencapaian tersebut. "Setelah 24 tahun, Tahun 2026 ini kita kembali menjadi broadcaster Piala Dunia. Ke depan, bisa menayangkan kembali," kata Meutya dengan penuh keyakinan.

Kembalinya TVRI sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2026 menandai pergulatan panjang industri penyiaran Indonesia. Sejak 2002, hak siar Piala Dunia didominasi oleh stasiun swasta berbayar, membuat masyarakat miskin terpinggirkan dari akses menonton gratis. Kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan siaran gratis via TVRI dan platform digital milik negara, seperti TVRI Sport dan aplikasi TVRI Klik, demi memenuhi hak warga atas informasi dan hiburan.

Di sisi lain, imbauan Wali Kota Rico mencerminkan realitas manajemen produktivitas di era digital. Fenomena "nobar malam-malam lalu kerja pagi" bukan hal baru di Indonesia. Setiap perhelatan besar — Piala Dunia, Liga Champions, hingga Asian Games — selalu memicu perdebatan soal absensi dan kinerja ASN lendemain hari. Pemerintah Kota Medan memilih jalur preventif dengan imbauan personal dari pimpinan daerah, bukan surat edaran kaku yang sering diabaikan.

Menurut data internal Pemkot Medan, jumlah ASN di lingkungan pemerintah daerah mencapai 14.500 orang per Maret 2025. Jika sepuluh persen saja izin sakit atau tidak hadir pasca nobar, dampaknya terasa pada pelayanan publik: perizinan, kesehatan, hingga administrasi kependudukan. Rico yang pernah menjabat Sekda Kota Medan memahami risiko operasional itu dengan baik.

Kendati demikian, Rico tidak melarang warganya menonton. Ia justru mengapresiasi Kementerian Komdigi yang memfasilitasi nobar gratis bagi masyarakat. "Terima kasih Bu Menteri yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat Kota Medan," ucapnya. Menurutnya, kebijakan siar gratis menjadi panggung hiburan yang inklusif, sekaligus mendorong generasi muda mengenal sepak bola sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

"Sehat terus. Semoga Kota Medan juga menjadi kota sehat," tutup Rico sambil berharap semangat olahraga menular ke kebiasaan harian warga. Perspektif ini sejalan dengan program "Medan Sehat" yang digulirkannya sejak awal jabatan, di mana olahraga rakyat dijadikan pilar pembangunan karakter generasi muda.

Dari sudut pandang teknologi, nobar massa ini juga menguji ketahanan infrastruktur jaringan. Kementerian Komdigi bekerja sama dengan operator seluler dan penyedia layanan internet untuk memastikan kapasitas bandwidth mencukupi lonjakan trafik video streaming pada dini hari. Pengalaman Piala Dunia 2022 — di mana banyak warga keluh buffering di platform berbayar — jadi pelajaran bagi tim teknis TVRI dan Kominfo dalam merancang arsitektur distribusi konten 2026.

Sementara itu, Menteri Meutya menegaskan komitmen pemutakhiran ekosistem penyiaran nasional. "Kita dorong TVRI memperkuat kapasitas produksi, termasuk tim jurnalistik olahraga, agar siaran Piala Dunia berkualitas broadcast standar internasional," imbuhnya. Hal ini membuka peluang bagi tenaga muda di bidang jurnalistik sport dan broadcast engineering untuk berkontribusi pada panggung global.

Ke depan, tantangan bukan hanya soal siar gratis, tapi bagaimana mempertahankan relevansi TVRI di era on-demand. Generasi Z dan Alpha terbiasa menonton highlight di TikTok, Reels, atau YouTube Shorts, bukan 90 menit penuh di layar TV. TVRI harus beradaptasi dengan strategi multi-platform: siar utama di TV, klip real-time di media sosial, dan arsip on-demand di aplikasi sendiri.

Bagi ASN Medan, imbauan Wali Kota bukan sekadar teguran, tapi pengingat bahwa profesionalisme diukur dari konsistensi — baik saat timnas bermain, maupun saat tidak ada acara istimewa. Sementara bagi industri media, Piala Dunia 2026 jadi momentum emas TVRI membuktikan bahwa penyiaran layanan publik tetap relevan, asalkan mau berinovasi tanpa meninggalkan misi keadilan akses.

Mengapa Ini Penting

Kembalinya TVRI sebagai broadcaster Piala Dunia setelah 24 tahun menandai pergeseran paradigma: hak siar olahraga global tidak lagi eksklusif bagi platform berbayar. Ini memaksa industri streaming domestik (Vidio, Mola, Vision+) mendefinisikan ulang value proposition mereka — bukan lagi monopoli konten premium, tapi pengalaman pengguna (UX), kualitas produksi, dan fitur interaktif. Bagi ASN, imbauan Wali Kota mencerminkan shift manajemen performa dari kompliance berbasis aturan ke accountability berbasis budaya. Jangka panjang, Piala Dunia 2026 jadi stress test bagi infrastruktur digital Indonesia: apakah jaringan 4G/5G dan CDN domestik sanggup menopang jutaan stream serentak tanpa buffering? Jawabannya akan menentukan kepercayaan investor global soal kesiapan digital Indonesia.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
19 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit