Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa secara resmi meresmikan akomodasi baru bertaraf internasional, Sade Social Space, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada hari Minggu. Peluncuran fasilitas ini menandai langkah strategis dalam memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism unggulan Indonesia, sejalan dengan visi pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai salah satu Super Priority Destination yang bersaing di kancah global.
Dalam sambutannya, Ni Luh menekankan bahwa hadirnya akomodasi baru yang terintegrasi dengan fasilitas olahraga modern menjadi katalisator pengetahuan dan inovasi pariwisata. "Akomodasi baru dan fasilitas olahraga dapat memperkuat pengetahuan pariwisata. Harus tetap ada inovasi," ujarnya. Ia menyoroti bahwa luasnya kawasan Mandalika menuntut inovasi berkelanjutan agar pengembangan tidak stagnan dan mampu menciptakan nilai tambah bagi pengunjung maupun masyarakat sekitar.
Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, merinci bahwa Sade Social Space dirancang sebagai ekosistem hibrid yang memadukan tiga pilar utama: olahraga, wellness tourism, dan ekonomi kreatif. Kompleks ini dilengkapi 38 kamar akomodasi, tiga lapangan padel standar internasional, serta satu lapangan basket indoor. Desain konseptual ini menjawab tren global pergeseran preferensi wisatawan yang mencari pengalaman holistic—menggabungkan aktivitas fisik, relaksasi mental, dan imersi budaya lokal—dalam satu paket perjalanan.
Pendekatan ini juga mencerminkan komitmen ITDC dalam menciptakan dampak ekonomi inklusif. Ahmad Fajar menegaskan bahwa penyerapan tenaga kerja memprioritaskan warga lokal, sehingga pembangunan infrastruktur pariwisata langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB. Data internal ITDC menunjukkan bahwa sejak operasional MotoGP Mandalika, serapan tenaga kerja lokal di sektor akomodasi dan F&B telah meningkat signifikan, menciptakan rantai nilai ekonomi yang lebih merata.
Wamenpar Ni Luh Puspa mengingatkan bahwa pembangunan destinasi pariwisata kelas dunia bukan proses instan. Ia mencontohkan Bali yang membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk mencapai kematangan infrastruktur dan branding global. "Penting kolaborasi antara pemerintah maupun masyarakat serta para pelaku wisata dalam mengembangkan kawasan Mandalika," tegasnya. Sinergi multi-stakeholder ini diperlukan untuk mengatasi tantangan klasik seperti keterbatasan akses transportasi, kapasitas SDM pariwisata, dan keberlanjutan lingkungan.
Kehadiran Sade Social Space juga diharapkan memperkuat daya tarik Mandalika di luar jadwal MotoGP. Selama ini, okupansi akomodasi di kawasan ini sangat bergantung pada kalender acara internasional. Dengan fasilitas olahraga permanen seperti padel—cabang olahraga yang sedang booming di kalangan kelas menengah atas Asia—Mandalika berpotensi menarik segmen wisatawan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions) dan bleisure (business + leisure) sepanjang tahun, mengurangi musimanitas pendapatan.
Dari sisi pemberdayaan UMKM, Ni Luh mengapresiasi upaya ITDC yang mendorong pelaku usaha mikro naik kelas hingga mampu mengekspor produk. Program inkubasi dan kurasi produk UMKM lokal ke dalam rantai pasokan akomodasi—seperti amenities kamar, souvenir, hingga供餐 (F&B)—menciptakan pasar pasti bagi produk lokal. Model ini mereplikasi praktik terbaik di destinasi matang seperti Bali dan Yogyakarta, di mana UMKM terintegrasi dalam value chain pariwisata formal.
Secara makro, investasi akomodasi berbasis sport tourism ini sejalan dengan roadmap Kemenpar 2025-2029 yang menargetkan devisa pariwisata USD 14-16 miliar dan serapan tenaga kerja 4,4 juta orang. Mandalika diproyeksikan menyumbang kontribusi signifikan melalui diversifikasi produk wisata: dari pantai dan budaya, kini berekspansi ke segmen olahraga dan wellness. Keberhasilan model Sade Social Space bisa dijadikan blueprint untuk pengembangan KEK pariwisata lain seperti Labuan Bajo dan Danau Toba.