Nasional

Warga Sulut Padati Open Ship KRI Bima Suci di Bitung

Ringkasan

  • Warga Sulut memadati Open Ship KRI Bima Suci di Bitung, Jumat, guna mengenal profesi prajurit TNI AL.

Kapal latih tiang tinggi milik TNI Angkatan Laut, KRI Bima Suci, memenuhi Dermaga Utama Satrol Koarmada VIII di Bitung pada Jumat saat hari terakhir kegiatan Open Ship. Antusiasme masyarakat Sulawesi Utara terlihat dari padatnya pengunjung yang datang dari berbagai kalangan untuk melihat langsung kapal kebanggaan matra laut tersebut.

Komandan Koarmada VIII Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi hadir menyambut warga yang memanfaatkan kesempatan langka ini. Ia menuturkan bahwa program Open Ship dirancang untuk membangun kedekatan antara TNI AL dan masyarakat sekaligus mengenalkan profesi prajurit laut kepada generasi muda. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus rekreasi yang mudah diakses oleh publik di Bumi Nyiur Melambai.

Open Ship merupakan salah satu bentuk diplomasi maritim yang rutin dilakukan TNI AL saat kapal berlabuh di pelabuhan tertentu. Selain sebagai sarana promosi alutsista, kegiatan ini berfungsi memperkenalkan pentingnya kedaulatan laut kepada warga pesisir maupun masyarakat pedalaman. Sulawesi Utara dengan posisi geografisnya yang berbatasan langsung dengan perairan internasional menjadi lokasi strategis untuk penyelenggaraan semacam ini.

KRI Bima Suci sendiri bukan kapal perang operasional, melainkan kapal latih yang digunakan untuk mendidik taruna Akademi Angkatan Laut. Kehadirannya di Bitung bagian dari rangkaian tugas yang juga mencakup misi diplomatik ke beberapa negara Asia. Sebelumnya, kapal tersebut sempat sandar di Jepang dan Singapura dalam upaya memperkuat hubungan kemaritiman Indonesia dengan negara sahabat.

Masyarakat yang datang tidak hanya sekadar berfoto di dek kapal. Mereka diajak berkeliling, melihat fasilitas navigasi, hingga mendengar penjelasan prajurit mengenai sejarah dan operasional kapal layar tiang tinggi itu. Pelajar dan mahasiswa tampak paling antusias karena mendapat wawasan langsung tentang kehidupan di atas kapal perang latih.

Dari sudut pandang sosial, interaksi semacam ini memangkas jarak antara institusi militer dan warga sipil. Selama ini, TNI AL kerap dianggap eksklusif dan sulit dijangkau oleh masyarakat umum. Melalui Open Ship, persepsi tersebut perlahan berubah karena prajurit bertugas menjelaskan fungsi kemaritiman dengan bahasa yang mudah dipahami.

Dampaknya bagi Indonesia cukup panjang. Pengenalan profesi prajurit sejak dini dapat menumbuhkan minat pemuda daerah untuk masuk Akademi Angkatan Laut. Hal ini krusial mengingat luas perairan Indonesia mencapai dua pertiga wilayah negara, namun jumlah sumber daya manusia kemaritiman belum sebanding dengan tanggung jawab pengamanan teritorial.

Kendati demikian, tantangan membangun kesadaran maritim tidak selesai dalam satu kegiatan Open Ship. Diperlukan program berkelanjutan seperti pelatihan kepemudaan, festival bahari, dan integrasi materi kemaritiman ke kurikulum sekolah. Tanpa konsistensi, antusiasme sesaat berisiko hilang begitu kapal meninggalkan pelabuhan.

"Open Ship ini dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap dunia kemaritiman sekaligus menumbuhkan semangat generasi muda untuk mengenal lebih dekat profesi prajurit TNI Angkatan Laut," ujar Dery. Ia berharap kehadiran kapal tersebut meninggalkan pengalaman berharga dan memperkuat semangat kemaritiman warga Sulawesi Utara.

Menurut Dery, interaksi langsung di atas kapal memberi wawasan tentang peran strategis TNI AL dalam menjaga keamanan wilayah perairan nasional. Pengunjung juga diajak memahami bahwa kedaulatan maritim merupakan bagian tak terpisahkan dari pertahanan negara.

Ke depan, Koarmada VIII berencana menjadikan Open Ship sebagai agenda tahunan di wilayah kerjanya. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan sekolah akan diperluas agar lebih banyak pelajar yang terlibat. Langkah ini sejalan dengan visi poros maritim yang menempatkan laut sebagai masa depan bangsa.

Tren kunjungan kapal latih ke daerah juga diproyeksikan meningkat seiring pemulihan sektor transportasi laut pasca berbagai hambatan global. Warga Indonesia di luar Pulau Jawa berhak mendapat akses edukasi pertahanan yang setara. Kehadiran KRI Bima Suci di Bitung menjadi contoh nyata bagaimana militer hadir untuk masyarakat, bukan hanya untuk operasi tempur.

Perspektif Indonesia dari peristiwa ini cukup jelas: pembangunan kesadaran maritim harus merata hingga ke wilayah timur. Negara dengan 17.000 pulau tidak boleh kehilangan generasi yang mencintai laut. Open Ship di Sulut membuktikan bahwa masyarakat daerah memiliki dahaga besar akan informasi dan pengalaman kemaritiman jika diberi ruang.

Mengapa Ini Penting

Kegiatan ini mengungkap ketimpangan akses edukasi pertahanan antara Jawa dan wilayah timur yang selama ini jarang disorot. Open Ship berkontribusi pada pembentukan SDM kemaritiman lokal yang krusial bagi pengamanan 17.000 pulau Indonesia. Tanpa publikasi dan interaksi rutin, minat pemuda daerah pada profesi prajurit laut akan tetap rendah. Program serupa perlu diinstitusionalisasi agar bukan sekadar euforia sesaat saat kapal bersandar.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit