Internasional

AS Perdana Pakai Sea Drone Corsair Tempur, Ini Dampaknya bagi Kawasan

Ringkasan

  • AS perdana pakai 3 drone laut Corsair serang Bandar Abbas Iran Minggu lalu untuk lemahkan ancaman shipping.

Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan drone laut dalam operasi tempur saat menyerang Pangkalan Angkatan Laut Bandar Abbas di Iran pada Minggu (12/7). Tiga drone permukaan tak berawak jenis Corsair menghantam fasilitas perawatan kapal selam dan kapal, tindakan yang disebut Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagai upaya melemahkan kemampuan Iran mengganggu pengapalan komersial.

Serangan itu menandai babak baru dalam peperangan maritim modern. Rekaman yang dirilis CENTCOM menunjukkan ledakan drone laut di dekat dermaga disusul kepulan asap tebal. Penggunaan senjata tanpa awak di laut sebelumnya sudah terjadi di tangan negara lain, namun bagi Angkatan Laut AS ini adalah debut tempur sesungguhnya.

Drone laut atau unmanned surface vessel (USV) merupakan kapal yang beroperasi tanpa kru di atasnya. Ukurannya jauh di bawah fregat, destroyer, maupun kapal penjelajah. Alat ini bisa dikendalikan dari jarak jauh atau berlayar mandiri lewat sistem otonom. Sejumlah misi telah lama dibebankan padanya, mulai dari intelijen, pengintaian, penanggulangan ranjau, logistik, hingga pencarian dan pertolongan.

Benedicta Nathania Palit, analis riset Indo-Pacific Strategic Intelligence, menuturkan drone laut membuat efisiensi personel bagi angkatan laut. Ia tidak dirancang beroperasi sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem lebih luas yang memberi gambaran operasional utuh demi keputusan yang lebih tepat. Joseph Kristanto dari RSIS menambahkan, kini alat itu makin dipakai untuk misi serangan.

Corsair yang dipakai AS merupakan drone serang sekali pakai. Collin Koh dari RSIS menyebut drone laut modern juga bisa diarahkan untuk operasi penghadangan maritim dan serangan antikapal. Ukraina bahkan mengembangkan versi yang mampu misi perang antiudara sekaligus berfungsi sebagai induk pesawat nirawak kecil.

Bagi AS, langkah ini bukan sekadar uji coba. Juni lalu, mereka sudah memakai USV untuk misi penyelamatan setelah helikopter Apache ditembak jatuh Iran. Itu disebut pemakaian pertama drone laut AS mengevakuasi personel di laut. Pentagon memang mendorong perluasan kendaraan nirawak di samping aset militer konvensional.

Palit menekankan makna serangan Minggu lalu terletak pada sinyal yang dikirimkan. Transisi dari sensor, alat penyelamat, hingga senjata dalam satu rentetan operasi menunjukkan platform itu telah matang dari eksperimen menjadi instrumen tempur sungguhan. Kristanto sepakat: sea drone tak lagi dianggap kemampuan eksperimental, melainkan bagian dari perangkat utama angkatan laut besar.

Ukraina memang sudah memakai drone laut sejak 2022 dengan hasil mematikan. Kyiv pada Rabu klaim menghantam 116 kapal Rusia dalam sembilan hari, termasuk tanker dan kargo. Keberhasilan itu turut memvalidasi potensi medan tempur drone laut di mata Washington.

Koh meyakini debut tempur AS terinspirasi sukses Ukraina di Laut Hitam dan Azov. Investasi besar Pentagon pada program nirawak akhirnya membuahkan hasil nyata. Corsair sendiri dibuat Saronic Technologies asal Texas. Panjangnya 7,3 meter, muat beban 454 kg, jangkauan lebih 1.000 mil laut, dan kecepatan puncak 35 knot.

Saronic menyebut Corsair mendukung operasi biru strategis, otonom, dan bisa diproduksi ribuan unit per tahun. Sebelum diserang Iran, drone itu sempat dipakai evakuasi personel. Maret lalu Corsair masuk layanan Satuan Tugas 59, unit pertama Angkatan Laut AS yang khusus menangani sistem nirawak.

Indonesia sebagai negara maritim dengan ribuan pulau perlu membaca tren ini secara serius. TNI AL sudah menguji beberapa USV lokal, namun mayoritas masih tahap pengintaian. Ancaman di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan membuat drone laut berbiaya rendah jadi opsi menarik untuk patroli terbatas.

Ke depan, persaingan senjata laut tak berawak akan makin cepat. AS dipastikan memperbanyak Corsair dan sejenisnya. Negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dituntut merumuskan doktrin sendiri sebelum teknologi itu mendominasi konflik regional.

Mengapa Ini Penting

Masuknya drone laut ke tempur resmi mengubah peta kekuatan naval global yang berbatasan langsung dengan kepentingan Indonesia di ALKI. Biaya pertahanan laut bisa turun bila lokal mengadopsi USV, namun risiko eskalasi cepat di perairan sengketa ikut meningkat. Masyarakat pesisir perlu sadar bahwa konflik masa depan bisa terjadi tanpa kru manusia di kapal penyerang.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit