Internasional

AS Perluas Serangan ke Iran, Teheran Balas ke Basis AS di Teluk

Ringkasan

  • Angkatan Laut AS menyerang target militer Iran hingga dekat Teheran dan menenggelamkan tanker minyak, memicu balasan Iran ke basis AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania serta serangan drone ke Erbil, Irak.

Angkatan Laut AS pada Kamis (17/7) melancarkan gelombang serangan udara baru ke sejumlah posisi militer Iran, mencakup wilayah yang lebih jauh ke utara hingga mendekati ibukota Teheran — पहली kali sejak konflik meledak kembali pekan lalu. Perintah Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan bertujuan melumpuhkan pusat komando, pertahanan udara, kemampuan rudal dan drone, serta fasilitas pengawasan pantai Iran guna mengurangi ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Dalam operasi terpisah, CENTCOM juga menembakkan rudal Hellfire ke sebuah tanker minyak yang diklaim mencoba berlayar menuju Pulau Kharg milik Iran, melanggar blokade laut yang diberlakukan kembali sejak Selasa.

Data sementara menyebut minimal 35 orang tewas dan lebih dari 300 luka sejak ronde serangan pertama Rabu lalu, yang dipicu oleh serangan Iran ke tiga kapal dagang di Selat Hormuz. Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Sirik, Chabahar, Konarak, Rask, Khondab, Khorramabad, dan Semnan. Sebuah rumah sakit di Ahvaz terpaksa meng-evakuasi 211 pasien setelah terdampak ledakan. Pertahanan udara Iran aktif di Teheran, Pakdasht, dan Parchin, sementara militer Iran mengklaim berhasil menjatuhkan drone MQ-9 AS di atas Kota Andimeshk.

Konflik ini tidak terpisah dari eskalasi berbulan-bulan di Selat Hormuz, saluran vital yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak global. Sejak pertengahan 2024, IRGC rutin menyita atau menyerang kapal dagang yang diklaim melanggar perairan Iran, sementara AS mendorong koalisi maritim untuk melindungi jalur pelayaran. Serangan AS Rabu lalu menargetkan kota pelabuhan dekat selat, menandai pergeseran dari operasi maritim terbatas ke serangan darat yang lebih dalam. Analis militer menilai penargetan Pulau Greater Tunb — yang diduga menjadi basis peluncuran rudal pantai — sebagai upaya AS memutus rantai komando IRGC di titik terdekat dengan selat.

Balasan Iran tidak menunggu lama. Tentara Iran pada Kamis mengklaim menyerang radar, sistem Patriot, dan tangki bahan bakar militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, serta sistem komunikasi dan depot bahan bakar di Pangkalan Al-Azraq, Yordania. Drone Iran juga dilancarkan ke Pangkalan Sheikh Isa, Bahrain, menarget radar Super Hawk dan baterai Patriot. Yordania mengklaim berhasil menembak jatuh delapan rudal Iran, sementara Irak melaporkan lima drone menyerang Erbil — dua jatuh dekat basis AS, satu dekat konsulat AS. Iran belum mengklaim serangan ke Erbil, namun pola serangan serentak ke tiga negara tetangga menandakan strategi tekanan regional yang terkoordinasi.

Dampak bagi Indonesia nyata meskipun geografis jauh. Selat Hormuz adalah arteri utama impor minyak mentah dan LNG Indonesia, yang lebih dari 60 persen pasokannya lewat jalur ini. Setiap gangguan pelayaran berpotensi mengangkat harga BBM domestik dan memperberat defisit neraca perdagangan. Kementerian ESDM sudah mengaktifkan tim mitigasi untuk memantau aliran tanker ke Terminal Tuban dan Cilacap. Di sisi keamanan, eskalasi ini memperkuat argumen Indonesia untuk memperkuat kemampuan pengawasan maritim di Selat Malaka dan Sunda, mencegah efek domino ketidakstabilan ke Asia Tenggara.

Di meja diplomasi, sinyal bercampur aduk. Ketua DPR Iran Mohammad Ghalibaf menegaskan Iran siap untuk konfrontasi militer penuh jika AS tidak mematuhi kesepakatan interim, menyebut pertempuran ini "eksistensial". IRGC mengancam menghentikan seluruh ekspor energi dari Timur Tengah — "ekspor minyak dan gas dari wilayah ini akan menjadi untuk semua, atau untuk tidak ada siapapun". Di sisi AS, Presiden Donald Trump di Pennsylvania mengulang klaim Iran ingin damai di balik layar tanpa menunjukkan bukti, namun di Truth Social ia mengucapkan terima kasih kepada Iran atas pelepasan warga AS Dena Karari yang ditahan sejak 2024. Wakil Presiden JD Vance di podcast Joe Rogan membela perang namun mengakui perlu adanya kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Pakar geopolitik menilai keterbukaan Trump soal damai dan pelepasan Karari sebagai sinyal saluran diplomatik tetap terbuka, meski retorika publik keduanya keras. Namun, blokade laut AS dan ancaman IRGC memutus ekspor energi menciptakan titik panas baru: jika tanker terus ditenggelamkan atau pelabuhan Iran dilumpuhkan, harga minyak global bisa melonjak melebihi USD 100 per barel — tekanan inflasi yang akan dirasakan hingga pasar emerging market Indonesia. Bank Indonesia sudah menyiapkan instrumen stabilisasi rupiah dan cadangan devisa untuk mengantisipasi tekanan modal keluar.

Untuk industri teknologi dan logistik Indonesia, gangguan rantai pasok chip dan komponen elektronik dari Timur Tengah — meski tidak sebesar Asia Timur — tetap perlu diwaspadai. Beberapa pabrik penyemiconductor di Israel dan Turki bergantung pada bahan baku dan jalur pengiriman yang melewati wilayah konflik. Kementerian Perindustrian mendorong diversifikasi sumber impor dan penguatan ekosistem downstream domestik guna mengurangi ketergantungan pada satu jalur geografis rawan.

Langkah selanjutnya akan ditentukan oleh tiga variabel: apakah AS akan memperluas serangan ke fasilitas nuklir Iran, apakah IRGC akan mengeksekusi ancaman memutus ekspor energi regional, dan apakah saluran diplomatik tersembunyi yang dirujuk Trump benar-benar ada. Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dijadwalkan pekan depan, namun veto kekuatan besar kemungkinan besar melumpuhkan resolusi tegas. Indonesia, sebagai non-permanent member DK PBB 2025-2026, memiliki peluang mendorong resolusi de-eskalasi yang menyeimbangkan keamanan pelayaran dan kedaulatan negara — posisi yang konsisten dengan kebebas bebas aktif.

Sementara itu, warga negara Indonesia di wilayah Teluk — diperkirakan puluhan ribu pekerja migran dan profesional — diminta Kemenlu tetap waspada dan mengikuti protokol evakuasi jika diperlukan. Kedubes di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Irak sudah mengaktifkan posko darurat 24 jam. Sejarah menunjukkan konflik Teluk 1990-1991 dan 2003 memicu gelombang pulang massal dan remitan turun drastis; mitigasi dini kali ini menjadi prioritas diplomatik sekaligus kemanusiaan.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi militer AS-Iran ini bukan sekadar konflik jarak jauh — Selat Hormuz adalah jugular ekonomi Indonesia. Kenaikan harga minyak global akan langsung meneror harga BBM, inflasi, dan neraca pembayaran kita. Lebih jauh, ancaman IRGC memutus ekspor energi regional menciptakan ketidakpastian struktural bagi keamanan energi jangka panjang. Sebagai anggota DK PBB, Indonesia punya momentum diplomatik langka untuk memimpin inisiatif de-eskalasi berbasis hukum laut dan kebebas bebas aktif, sekaligus menguji ketahanan kebijakan diversifikasi energi domestik. Jika konflik memanjang, dampak merambah ke rantai pasok teknologi, tenaga kerja migran, dan stabilitas regional yang selama ini jadi landasan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit