Warren Buffett, Chairman Berkshire Hathaway, menyatakan hubungan Bill Gates dengan Jeffrey Epstein terasa tidak menyenangkan, sekaligus memutus aliran donasi ke Gates Foundation. Keputusan itu diumumkan setelah ia menyalurkan hampir 6 miliar dolar AS saham perusahaannya ke yayasan yang dipimpin ketiga anaknya pada pertengahan Juli 2026.
Pengusaha berusia 95 tahun itu menegaskan bahwa pengalihan dana bukan semata karena kontroversi Epstein, melainkan karena Susie, Howard, dan Peter Buffett sudah cukup dewasa untuk mengelola kekayaan ayah mereka. Dalam wawancara di CNBC pada 15 Juli, Buffett mengatakan seluruh harta tersebut kini menjadi tanggung jawab anak-anaknya untuk didistribusikan dengan baik.
Langkah ini menandai perubahan besar dalam filantropi salah satu orang terkaya di dunia. Sejak 2006, Buffett telah menyumbangkan lebih dari 47 miliar dolar AS saham Berkshire ke Gates Foundation. Kali ini, ia justru menyerahkan 12 juta lembar saham Kelas B senilai hampir 6 miliar dolar AS ke empat yayasan keluarga: Susan Thompson Buffett Foundation, Sherwood Foundation, Howard G. Buffett Foundation, dan NoVo Foundation.
Total sumbangan Buffett ke lembaga-lembaga pimpinan anaknya sejak 2006 kini melampaui 23 miliar dolar AS. Pergeseran ini terjadi bersamaan dengan rilis dokumen Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Februari lalu yang memuat detail hubungan Gates dengan Epstein, termasuk upaya filantropi bersama yang sempat direncanakan keduanya.
Gates, yang pernah duduk di jajaran direksi Berkshire selama 16 tahun, bertemu Buffett di Omaha tiga pekan sebelum wawancara tersebut. Ia juga telah memberi keterangan kepada Kongres AS bulan lalu terkait pembiayaan tersebut. Gates berulang kali menyatakan penyesalan atas keterlibatannya dengan Epstein dan tidak pernah didakwa melakukan tindak pidana.
Buffett menyebut persahabatannya dengan Gates tetap baik meski ada kesalahan yang dibuat. Ia mengakui dirinya pun pernah salah memilih rekan atau teman yang kemudian terbukti berbeda dari ekspektasinya. Namun, bagi pembaca di Indonesia, kabar ini menyoroti bagaimana figur kaya raya mulai memprioritaskan kendali keluarga dalam filantropi dibanding institusi eksternal.
Di tanah air, pola serupa mulai tampak pada keluarga pengusaha besar yang membentuk yayasan keluarga untuk pendidikan dan kesehatan. Perbedaannya, transparansi dan pelaporan publik di Indonesia masih tertinggal jauh dari standar yang diterapkan filantropis AS. Skala donasi Buffett yang triliunan rupiah setara juga menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola wakaf atau hibah bisnis yang profesional.
Dampak lainnya adalah sinyal bagi ekosistem filantropi global bahwa kepercayaan terhadap nama besar bisa tergerus oleh isu reputasi, sekecil apa pun kaitannya. Bagi donor Indonesia yang bermitra dengan lembaga luar negeri, hal ini menggarisbawahi perlunya klausul evaluasi berkala agar dana tidak terjebak dalam kontroversi pihak mitra.
Buffett menilai keputusan mendukung Gates Foundation selama ini tetap tepat dan tidak menyesali persahabatan mereka. "Kami punya banyak momen menyenangkan bersama, itu persahabatan yang luar biasa," ujarnya. Ia menambahkan bahwa menyingkirkan dana ke anaknya adalah soal menjaga kejelasan pikiran di usia senja.
Pada pengumuman Selasa, Buffett juga mempercepat jadwal pembagian sisa saham Berkshire yang dikuasainya, yakni sekitar 13 persen dari perusahaan bernilai 1,06 triliun dolar AS. Ia ingin seluruh saham terdistribusi akhir 2034, bukan 10 tahun pasca-kematiannya, mengingat usia anak tertuanya yang akan mencapai 81 tahun di akhir tenggat tersebut.
Ke depan, empat yayasan anak Buffett diproyeksikan memainkan peran dominan dalam isu kemanusiaan global. Perubahan rencana ini juga bisa memicu debat soal efektivitas filantropi keluarga dibanding yayasan independen. Di Indonesia, tren serupa berpotensi mendorong regenerasi pengelolaan dana sosial oleh generasi penerus pemilik kekayaan.