Internasional

Pew: Citra China Lampaui AS di 25 Negara, Pertama Sejak 2006

Ringkasan

  • Pew Research Center mencatat citra China lebih positif dari AS di 25 dari 36 negara hasil survei Februari-Mei 2026, pertama dalam 20 tahun.

Lembaga riset Pew Research Center mencatat pergeseran drastis dalam opini global. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, masyarakat di sebagian besar negara lebih memandang China positif ketimbang Amerika Serikat.

Survei yang dirilis pada 15 Juli tersebut melibatkan lebih dari 42.000 responden di 35 negara serta Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Dari 36 wilayah yang disurvei antara Februari hingga Mei, sebanyak 25 di antaranya memberikan penilaian lebih baik kepada Beijing, termasuk Kanada dan Meksiko. Hanya enam negara yang masih memposisikan AS di atas China.

Perubahan ini menjadi catatan historis bagi Pew yang telah memantau sikap dunia sejak 2006. Laura Silver, direktur asosiasi Riset Sikap Global Pew, menyatakan bahwa selama 20 tahun terakhir AS nyaris selalu unggul dalam persepsi internasional. Tahun ini menjadi titik balik di mana jarak penilaian memihak China secara signifikan.

Memudarnya trauma pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor meredanya sentimen negatif terhadap China. Di sisi lain, kebijakan luar negeri Washington dalam beberapa tahun terakhir memicu resistensi. Serangan AS dan Israel ke Iran tanpa dasar yang jelas, tuntutan Trump atas Greenland, serta penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro memperburuk citra Negeri Paman Sam.

Ketegangan dagang dan retorika Trump terhadap Kanada turut mempercepat peralihan opini. Pada 2023, 57 persen warga Kanada memandang AS positif. Angka itu anjlok ke 33 persen tahun ini. Sebaliknya, pandangan positif terhadap China naik dari 14 persen menjadi 44 persen dalam kurun yang sama.

Negara-negara Eropa besar juga berbalik arah. Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda kini menilai China lebih favorabel. Masyarakat Inggris yang dulu memandang AS unggul 32 poin persentase pada 2023, kini menempatkan kedua negara seimbang. Penanganan Washington atas perang Israel-Hamas di Gaza ikut menurunkan kepercayaan publik Eropa.

Bagi Indonesia, bergesernya pusat persepsi global membawa implikasi pada mitra strategis dan rantai pasok teknologi. Selama ini AS menjadi rujukan utama bagi ekosistem digital dan keamanan siber nasional. Melemahnya citra Washington dapat membuka ruang negosiasi lebih luas dengan Beijing, terutama dalam investasi infrastruktur teknologi seperti 5G dan pusat data.

Di tingkat pengguna, produk teknologi asal China seperti ponsel, perangkat IoT, dan layanan cloud sudah mendominasi pasar menengah Indonesia. Jika sentimen positif global ikut merembes ke tingkat konsumen domestik, adopsi teknologi buatan perusahaan seperti Huawei atau BYD dapat meningkat tanpa stigma geopolitik yang selama ini menempel.

Meski demikian, AS masih unggul dalam hal penghormatan kebebasan pribadi, meski kesenjangannya menyempit. Pew mencatat masyarakat di hampir setiap negara kini meragukan komitmen Washington terhadap kebebasan warga dibandingkan kondisi 2021. Hal ini menjadi catatan bagi pengambil kebijakan yang selama ini menggandeng AS dalam regulasi digital.

"Ini adalah kali pertama dalam kurun waktu sekitar 20 tahun Pew memantau opini global di mana China dipandang lebih positif dibandingkan AS," ujar Silver. Ia menambahkan bahwa China dinilai sebagai mitra lebih dapat diandalkan dan berkontribusi pada stabilitas global ketimbang AS dalam survei terbaru.

Enam negara yang tetap pro-AS adalah Israel, Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Israel memimpin dengan 80 persen warga memandang AS positif, berbanding 19 persen untuk China. Namun di kelima negara Asia dan Eropa Timur tersebut, tren apresiasi terhadap Washington juga menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Proyeksi ke depan menunjukkan persaingan citra ini akan memengaruhi alokasi investasi teknologi global. Jika China mampu mempertahankan persepsi sebagai mitra stabil, arus modal dan transfer teknologi ke negara berkembang termasuk Indonesia berpotensi bergeser. Sebaliknya, AS perlu merevisi pendekatan diplomasi agar tidak kehilangan pengaruh di blok sekutu tradisionalnya.

Perubahan opini publik dunia dalam survei Pew menjadi sinyal bagi korporasi teknologi untuk menyesuaikan strategi pemasaran dan kemitraan regional. Ekosistem digital Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga dan keandalan layanan akan menjadi arena uji coba langsung dari pergeseran kekuatan geopolitik ini.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran persepsi ini relevan bagi Indonesia karena memengaruhi arah subsidi dan regulasi teknologi yang selama ini condong ke standar Barat. Melemahnya citra AS dapat mempercepat masuknya infrastruktur digital China ke sektor publik tanpa hambatan politis. Masyarakat luas di daerah juga akan merasakan dampak melalui ketersediaan perangkat lebih murah dan kemitraan riset yang berpindah kutub. Tren ini menuntut literasi geopolitik pada konsumen agar tidak terjebak dalam dependensi tunggal terhadap satu blok teknologi.

Sumber Asli
Tempo Dunia
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit