Aktivis lingkungan global, Greta Thunberg, memberikan perhatian khusus terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Thunberg membagikan rekaman video dari seorang warga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang menggambarkan kondisi langit mencekam berwarna oranye akibat tebalnya kabut asap.
Dalam narasi yang menyertai unggahannya pada Kamis (16/10), Thunberg menegaskan bahwa situasi di lapangan jauh lebih memprihatinkan dibandingkan apa yang selama ini muncul di media sosial. Ia menyoroti kondisi darurat yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.
Data yang dipaparkan Thunberg cukup mencengangkan, dengan menyebutkan sekitar dua juta hektar lahan telah hangus terbakar. Dampak ekologis dan kemanusiaan yang ditimbulkan sangat masif, mulai dari terbakarnya satwa liar hingga jatuhnya korban jiwa, termasuk di antara mereka adalah petugas pemadam kebakaran yang gugur saat bertugas di garis depan.
Krisis kesehatan masyarakat menjadi poin krusial yang ditekankan oleh aktivis asal Swedia ini. Tercatat sebanyak 277.075 orang terpaksa mendapatkan perawatan medis akibat infeksi saluran pernapasan akut. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 di antaranya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun yang menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan polusi udara berkepanjangan.
Fenomena karhutla di Indonesia memang bukan peristiwa baru, namun eskalasinya tahun ini kembali memicu perhatian internasional. Secara historis, pembukaan lahan dengan cara membakar kerap menjadi pemicu utama di balik musibah rutin ini. Faktor iklim yang kering serta manajemen lahan yang belum optimal sering kali memperburuk penyebaran api yang sulit dikendalikan.
Selain dampak domestik, kabut asap dari kebakaran lahan di Indonesia juga dilaporkan menyelimuti negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand. Hal ini menegaskan bahwa polusi udara akibat karhutla merupakan masalah lintas batas yang membutuhkan kerja sama regional lebih erat dalam mitigasi dan penegakan hukum.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk memadamkan titik api. Sinergi antara badan penanggulangan bencana, militer, kepolisian, dan tim pemadam kebakaran di lapangan terus diupayakan untuk menghentikan laju kerusakan hutan lebih lanjut.
Thunberg tidak hanya mengkritik, tetapi juga menggalang dukungan melalui Kampanye Penggalangan Dana Kebakaran dan Kabut Borneo. Dana yang terkumpul ditujukan untuk mendukung operasional pemadam kebakaran, penyediaan tempat perlindungan bagi masyarakat terdampak, serta upaya penyelamatan hutan yang tersisa.
Langkah yang dilakukan Thunberg menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial mampu mengamplifikasi isu lingkungan lokal ke panggung global. Ini memberikan tekanan moral tambahan bagi para pemangku kebijakan untuk mengambil tindakan yang lebih konkret dan transparan dalam penanganan krisis iklim.
Ke depan, tantangan terbesar bagi Indonesia adalah beralih dari pola pemadaman reaktif menuju strategi pencegahan yang berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Penggunaan satelit pemantau titik api yang lebih akurat serta penegakan hukum yang tegas terhadap perusahaan pembakar lahan menjadi kunci utama.
Selain itu, pemulihan ekosistem gambut harus menjadi prioritas nasional. Tanpa restorasi lahan gambut yang masif, potensi kebakaran hebat akan terus membayangi Indonesia setiap tahunnya, yang pada gilirannya akan terus mengancam kesehatan generasi muda di masa depan.
Secara keseluruhan, perhatian dari tokoh internasional seperti Greta Thunberg menjadi pengingat keras bahwa krisis ekologi di Indonesia bukan sekadar masalah domestik, melainkan bagian dari tantangan iklim global yang menuntut tanggung jawab kolektif dari semua pihak untuk segera diakhiri.