Internasional

Gunung Pickaxe, Fasilitas Bawah Tanah Iran yang Diincar Trump

Ringkasan

  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Gunung Pickaxe, fasilitas bawah tanah Iran dekat Natanz, seiring memanasnya ketegangan nuklir antara Washington dan Teheran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan "meratakan" Gunung Pickaxe, sebuah fasilitas bawah tanah yang dibangun Iran di dekat situs nuklir utama Natanz. Ancaman ini muncul ketika ketegangan antara Washington dan Teheran memanas sejak awal Juli 2025.

Gunung Pickaxe terletak sekitar 220 kilometer di selatan Teheran, hanya dua kilometer dari kompleks nuklir Natanz. Puncak gunung ini menjulang hingga 1.600 meter di atas permukaan laut dan diyakini sebagai bagian dari program nuklir rahasia Tehran. Fasilitas ini dibangun pada 2020, setelah ledakan sabotase melanda Natanz dan menyebabkan kerusakan signifikan pada program sentrifugal pengayaan uranium Iran.

Setelah insiden Natanz, Iran mengumumkan pembangunan "aula yang lebih modern, lebih besar, dan lebih komprehensif" di dalam gunung dekat Natanz. Ali Akbar Salehi, yang saat itu memimpin program nuklir Iran, menyatakan fasilitas baru tersebut akan memproduksi sentrifugal canggih. Kepala IAEA, Rafael Grossi, kemudian mengungkap bahwa Iran telah mengumumkan niatnya untuk melakukan aktivitas nuklir di dalam gunung tersebut, sebagai bagian dari upaya sistematis untuk memindahkan fasilitas paling sensitif ke bawah tanah.

Institute for Science and International Security (ISIS) telah menganalisis citra satelit dan menemukan dua pasang pintu masuk terowongan di Gunung Pickaxe. Kedua pintu masuk ini diduga mengarah ke sebuah fasilitas yang terletak setidaknya 100 meter di bawah permukaan gunung. ISIS mencatat bahwa pintu masuk timur sebagian telah diurug sejak perang AS-Iran pecah, dengan tujuan menghalangi akses kendaraan darat.

Trump menyatakan bahwa Washington saat ini tidak melihat aktivitas apa pun di Gunung Pickaxe. Menurutnya, Iran berhati-hati dengan fasilitas tersebut karena takut menjadi target serangan AS. "Kami tidak melihat aktivitas apa pun di sana. Situasi nuklir mereka tidak berjalan dengan baik. Setiap kali kami mendengar tentang itu, kami meledakkannya. Jadi mereka tidak suka membicarakannya. Tapi kami mungkin akan mengincar Pickaxe Mountain dalam waktu relatif singkat," kata Trump dalam sebuah wawancara.

ISIS menilai bahwa Gunung Pickaxe kemungkinan belum beroperasi penuh. Analisis mereka menunjukkan bahwa belum jelas kapan fasilitas tersebut dapat mulai berfungsi, terutama mengingat kehancuran program sentrifugal Iran dan kesulitan Tehran dalam memproduksi komponen yang diperlukan. Meski demikian, jika Iran berhasil membangun kembali kemampuan manufaktur sentrifugal, mereka dapat merancang fasilitas perakitan yang lebih kecil di Gunung Pickaxe untuk mendukung program senjata nuklir.

Para ahli memperingatkan bahwa kompleks bawah tanah yang sangat dalam itu kemungkinan berada di luar jangkauan bom penghancur bunker paling canggih dalam persenjataan AS. Oleh karena itu, fasilitas tersebut lebih cocok bagi pasukan darat untuk melakukan serangan atau sabotase. Namun, kerentanan tetap ada, terutama jika senjata penetrator kedalaman bumi dapat digunakan dalam serangan udara.

Sam Lair, peneliti di Foreign Policy Research Institute, menyimpulkan bahwa aktivitas di Gunung Pickaxe masih berlangsung dan Iran berniat melanjutkan proyek tersebut. "Tetapi mereka masih cukup khawatir tentang potensi serangan sehingga mereka mengambil langkah-langkah untuk memperkuat pertahanan mereka," ujarnya.

Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implications penting. Jakarta sedang mengembangkan program energi nuklir untuk diversifikasi sumber daya dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas pasokan teknologi nuklir dan keamanan bahan bakar di kawasan, termasuk jalur maritim yang menjadi rute impor bahan nuklir. Selain itu, dinamika politik global terkait proliferasi nuklir dapat memengaruhi posisi Indonesia dalam forum IAEA dan kebijakan non-proliferasi yang selama ini dijunjung.

Ke depan, dunia akan mengawasi apakah Gunung Pickaxe akhirnya beroperasi atau tetap menjadi simbol ketangguhan bawah tanah Iran. Jika fasilitas tersebut mulai berfungsi, hal ini dapat mempercepat siklus senjata di Timur Tengah dan mendorong negara-negara lain untuk mencari perlindungan serupa di bawah tanah. Bagi AS, ancaman Trump menunjukkan kesediaan Washington untuk menggunakan kekuatan jika program nuklir Iran dianggap mengancam. Bagi komunitas internasional, tantangan utamanya adalah memastikan bahwa insiden tersebut tidak memicu konflik yang lebih luas, yang dapat membahayakan keamanan energi global dan keamanan maritim, termasuk jalur pasokan di Selat Hormuz yang menjadi kepentingan strategis Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Eskalasi ancaman terhadap Gunung Pickaxe dapat mengganggu stabilitas keamanan energi global, yang berdampak pada jalur pasokan strategis seperti Selat Hormuz yang vital bagi Indonesia. Selain itu, perkembangan ini menguji ketahanan kebijakan non-proliferasi yang selama ini dijunjung Jakarta di forum IAEA dan dapat memicu perlombaan senjata bawah tanah di Timur Tengah, yang berpotensi meningkatkan risiko proliferasi teknologi nuklir di kawasan Asia-Pasifik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit