Militer Amerika Serikat merampungkan gelombang kedua serangan terhadap Iran pada Rabu, 15 Juli 2026, memasuki hari kelima operasi berturut-turut yang menargetkan kemampuan Teheran di Selat Hormuz. Esok dini harinya, sistem pertahanan udara di ibu kota Iran diaktifkan menyusul laporan ledakan di beberapa wilayah, termasuk pinggiran Teheran.
Serangan udara dan laut yang dilancarkan AS telah melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang menuju Pulau Kharg, jalur ekonomi vital Iran, sejak blokade angkatan laut Washington diberlakukan kembali. Presiden Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan opsi perluasan operasi militer, menurut sumber yang dikutip CNN. Situasi memuncak ketika warga Teheran terbangun akibat suara ledakan keras pada Kamis dini hari, 16 Juli 2026.
Ketegangan bermula dari perebutan kendali Selat Hormuz, chokepoint strategis yang dilalui seperlima pasokan minyak global. AS berupaya melemahkan Iran agar tidak lagi mengancam kapal niaga di selat tersebut. Teheran menolak melakukan negosiasi, sebagaimana ditegaskan juru bicara kementerian luar negeri pada Rabu pekan ini.
Meski demikian, Trump mengklaim melalui media sosial bahwa Iran membebaskan seorang perempuan warga AS yang ditahan sejak Desember 2024. Ia menyebut hal itu sebagai iktikad baik dari Teheran. Namun, pernyataan itu belum mengubah posisi militer kedua negara yang saling serang.
Pakistan sempat memediasi nota kesepahaman untuk menghentikan konflik dan mencapai perdamaian langgeng. Kesepakatan itu ternyata rapuh. Serangan AS dan respons Iran justru meningkat dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan bahwa diplomasi belum berakar kuat di lapangan.
Bagi Indonesia, pergerakan di Selat Hormuz bukan sekadar berita luar negeri. Negara kita mengimpor mayoritas kebutuhan minyak mentah melalui rute Timur Tengah. Gangguan navigasi di selat tersebut berpotensi mengerek harga energi domestik dan memperlebar defisit neraca perdagangan.
Pelaku industri logistik Tanah Air mulai menghitung ulang biaya asuransi pengiriman. Kenaikan premi kapal akibat zona perang akan berimbas pada barang konsumsi dan bahan baku pabrik. Pengguna akhir di Indonesia yang merasakan dampaknya adalah rumah tangga melalui tagihan listrik dan harga BBM subsidi yang bertekanan.
Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) belum merilis antisipasi resmi, namun pengamat energi dalam negeri menilai diversifikasi pemasok sudah mendesak. Kerja sama dengan produsen non-Timur Tengah seperti Rusia atau Guyana perlu dipercepat. Indonesia tidak memiliki cadangan strategis setara negara maju, sehingga guncangan harga akan terasa cepat.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pertahanan udara diaktifkan di wilayah timur dan barat Teheran. Ledakan terdengar di sekitar Parchin dan Pakdasht, tenggara ibu kota. Gubernur Pakdasht membenarkan pengaktifan tersebut dan mengonfirmasi suara ledakan di kotanya.
Media pemerintah IRIB menyebut Bandara Semnan, lebih dari 100 mil timur Teheran, menjadi sasaran serangan udara. Wakil Gubernur Provinsi Markazi mengatakan dua proyektil menghantam lokasi di luar Khondab. IRNA juga melaporkan ledakan di Khorramabad, Lorestan. CNN belum bisa memverifikasi independen semua serangan tersebut.
Perluasan operasi AS ke depan akan bergantung pada respons Kongres dan tekanan sekutu di Teluk. Trump diperkirakan akan memakai pembebasan sandera sebagai peluang pembuka jika ingin meja diplomasi kembali hangat. Di sisi lain, Iran diprediksi memperkuat sistem pertahanan jarak pendek yang sudah aktif di ibu kota.
Nota kesepahaman dari Pakistan mungkin dibuka lagi jika kedua belah pihak kelelahan secara militer dan ekonomi. Masyarakat global, termasuk Indonesia, akan terus memantau apakah Selat Hormuz tetap terbuka. Stabilisasi rute itu adalah syarat utama agar harga energi dunia tidak melonjak liar dalam dua kuartal ke depan.