Tehran mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandab jika AS terus menyerang, sehingga dapat 'mencekik' urat nadi perdagangan penting yang menghubungkan Eropa dan Asia. Jalur perairan sempit ini bahkan dianggap lebih vital bagi perdagangan internasional daripada Selat Hormuz, menurut para analis. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa setelah menutup Selat Hormuz dan Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, semua jalur ekspor lain yang digunakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya akan ditutup. Pernyataan ini disiarkan oleh kantor berita negara Iran, IRNA, yang mengatakan bahwa ekspor energi di wilayah tersebut akan "dapat diakses oleh semua pihak atau tidak sama sekali."
Ancaman ini bergantung pada pemberontak Houthi di Yaman, sekutu Iran, yang memiliki kemampuan untuk memblokir Selat Bab al-Mandab. Pejabat senior Houthi mengatakan pada Senin (13/7) bahwa kelompok tersebut siap menutup selat tersebut jika Arab Saudi melanjutkan serangan terhadap Yaman, sebuah langkah yang menurut laporan dapat mendorong harga minyak hingga US$200 per barel. Selat Bab al-Mandab menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan merupakan jalur utama untuk ekspor minyak Saudi serta bagian penting dari perdagangan maritim global. Gangguan di sini akan membuka front baru melawan Washington dan membahayakan dua jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
Bagi Indonesia, prospek penutupan selat tersebut menimbulkan kekhawatiran langsung. Archipelagic nation ini sangat bergantung pada jalur laut yang melewati Laut Merah dan Terusan Suez untuk mengangkut barang dari Eropa dan Timur Tengah. Penutupan yang berkepanjangan akan memaksa importir Indonesia mencari rute alternatif, yang mungkin menambah waktu pengiriman selama berminggu-minggu dan meningkatkan biaya pengiriman. Pasar energi juga sangat penting. Indonesia mengimpor sebagian besar minyak mentahnya dari wilayah Teluk. Lonjakan harga minyak global, terutama jika Selat Bab al-Mandab ditutup, akan membebani anggaran subsidi bahan bakar dan dapat memicu inflasi pada transportasi dan makanan.
Analis maritim mencatat bahwa perusahaan pelayaran Indonesia akan menghadapi tantangan dalam hal rute. Kapal-kapal dapat dialihkan mengelilingi Tanjung Harapan Afrika, yang menambah jarak sekitar 7.000 mil laut. Meskipun kapal kontainer modern dapat menangani rute yang lebih panjang, konsumsi bahan bakar tambahan akan tercermin dalam tarif pengiriman yang lebih tinggi, yang sudah tidak stabil akibat ketegangan geopolitik baru-baru ini. "Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai kejahatan Amerika berakhir," IRGC menyatakan pada hari Rabu, menghubungkan kedua jalur laut ini dalam kampanye tekanan yang terkoordinasi. Pernyataan ini menekankan kesediaan Teheran untuk memanfaatkan sekutu mana pun, termasuk Houthi, untuk meningkatkan daya tawar mereka.
Juru bicara Houthi Mohammad Abdul Salam menegaskan kembali kesiapan kelompok tersebut, menggambarkan penutupan yang mungkin terjadi sebagai tindakan defensif terhadap serangan Saudi. Dia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Yaman akan dibalas dengan respons yang dapat "mengganggu fondasi ekonomi global."
Ke depan, para analis memprediksi bahwa ancaman ini akan terus membuat pasar cemas. Jika Amerika Serikat meningkatkan serangannya, risiko penutupan kedua selat tersebut meningkat, sehingga pedagang minyak menetapkan premi risiko. Sebagai importir minyak bersih, Indonesia harus mempersiapkan rencana darurat seperti meningkatkan cadangan strategis minyak dan mendiversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi dampak guncangan harga mendadak.
Dalam jangka panjang, episode ini menyoroti kerentanan jaringan perdagangan global. Indonesia mungkin perlu berinvestasi dalam kapasitas penyulingan domestik dan mengeksplorasi koridor maritim alternatif, seperti Rute Timur melalui Samudra Hindia, untuk mengurangi ketergantungan pada satu jalur. Memperkuat hubungan diplomatik dengan pemain regional dapat memberikan Indonesia mekanisme peringatan dini untuk meringankan dampak gangguan di masa depan.