Internasional

Iran Ancam Tutup Selat Bab el-Mandeb, Harga Minyak Bisa Melonjak ke US$200

Ringkasan

  • Iran mengancam menutup Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah melalui sekutu Houthi Yaman jika AS tidak menghentikan serangan, mengancam rute vital ekspor minyak global dan perdagangan maritim internasional.

Teheran mempertajam ancaman geopolitik dengan menargetkan Selat Bab el-Mandeb, gerbang maritim strategis yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan menutup "semua jalur ekspor lain yang digunakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya" setelah sebelumnya menutup Selat Hormuz. Pernyataan ini diterbitkan kantor berita negara IRNA pada Rabu (15/7) sebagai respons terhadap blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Bab el-Mandeb bukan sekadar jalur alternatif. Menurut data Middle East Monitor, titik sempit lebar 29 kilometer ini justru lebih vital dibanding Hormuz bagi aliran perdagangan Eropa-Asia melalui Terusan Suez. Sekitar 4,8 juta barel minyak dan produk petroleum melewati selat ini setiap hari, berdasarkan laporan Energy Information Administration AS. Penutupan total akan memaksa tanker mengelilingi Afrika via Tanjung Harapan Good Hope, menambah waktu tempuh 10-14 hari dan biaya angkutan drastis.

Latar belakang eskalasi ini bermula dari penembakan rudal balistik Iran ke Israel pada Oktober lalu, yang dijawab AS dengan serangan presisi ke fasilitas nuklir dan militer Iran sejak awal Juli. Washington kemudian memberlakukan blokade maritim penuh ke pelabuhan Iran, efektif melumpuhkan ekspor minyak Teheran yang menyumbang 1,5% pasokan global. IRGC menjawab dengan menutup Hormuz pada 10 Juli, lalu mengancam Bab el-Mandeb sebagai "front kedua" lima hari kemudian.

Analis militer Reuters menilai Iran tidak memiliki kapabilitas naval langsung untuk mengontrol Bab el-Mandeb yang berjarak 2.000 kilometer dari pesisir Iran. Sebaliknya, Teheran mengandalkan Houthi Yaman yang menguasai pesisir utara selat sejak 2014. Kelompok ini telah meluncurkan puluhan rudal anti-kapal dan drone ke kapal dagang sejak November 2023, mengklaim solidaritas dengan Palestina. Namun ancaman penutupan total selat ini merupakan eskala baru — bukan gangguan sporadis, tapi blokade sistematis.

Pejabat senior Houthi, Muhammad al-Bukhaiti, mengonfirmasi kesiapan menutup selat pada Senin (13/7) jika Arab Saudi melanjutkan serangan udara ke Yaman. Ia menuding Riyadh melanggar gencatan senjata 2022 dengan membombardir Bandara Internasional Sanaa. Saudi menafikan, namun konflik proxy ini kini berpotensi meledak menjadi konfrontasi langsung Iran-Arab Saudi lewat perantara Houthi. Harga minyak Brent sudah naik 12% minggu ini ke US$87 per barel, dan analis Goldman Sachs memperkirakan bisa sentuh US$150-200 jika kedua selat tertutup simultan.

Dampak bagi Indonesia substansial meski geografis jauh. Sebagai importir neto 1,2 juta barel/hari, kenaikan harga minyak global langsung menebalkan defisit neraca perdagangan dan tekanan rupiah. Kementerian ESDM mengakui cadangan BBM aman 20 hari, tapi harga impor naik akan memaksa pemerintah menyesuaikan harga subsidi atau menanggung beban APBN lebih besar. Selain itu, 30% ekspor Indonesia ke Eropa lewat Terusan Suez — penutupan Bab el-Mandeb akan melumpuhkan rute ini, memaksa pengiriman lewat Kelapa Gading yang 40% lebih mahal.

Di sisi energi, PLN yang mengandalkan PLTU batubara dan gas impor menghadapi tekanan biaya pembangkitan. Harga LNG spot Asia sudah melonjak 18% sejak eskalasi Hormuz. Jika Bab el-Mandeb tertutup, pengiriman LNG Qatar ke Asia Tenggara — supplier utama Indonesia — akan terganggu parah. Kementerian ESDM telah mengaktifkan tim mitigasi dan berkoordinasi dengan Pertamina untuk diversifikasi supplier, tapi opsi terbatas dalam jangka pendek.

Secara geopolitik, Indonesia sebagai ketua ASEAN 2026 harus waspada. Eskalasi ini memperkuat polarisasi blok Barat vs Timur, mempersulit diplomasi multilateral. Jakarta yang menjaga netralitas aktif kini tertekan untuk memilih sisi di forum G20 dan PBB. Menghindari sisi berarti risiko kehilangan leverage diplomatik, tapi memilih sisi berbahaya bagi hubungan dagang dengan kedua blok. Luar Negeri Retno Marsudi baru saja menyelesaikan kunjungan ke Teheran dan Riyadh minggu lalu untuk diplomasi preventif.

"Kami tidak ingin melihat eskalasi lebih lanjut yang merugikan semua pihak," ujar Dirjen Amerika dan Eropa Kemlu, Febrian Ruddyard, saat dikonfirmasi Rabu. Ia menegaskan Indonesia mendorong deeskalasi lewat dialog dan menghormati kebebaran navigasi berdasarkan UNCLOS 1982. Namun diplomasi lunak ini diuji keras ketika PBB sendiri lumpuh karena veto AS-Rusia di DK PBB.

Proyeksi ke depan menunjukkan tiga skenario. Pertama, deeskalasi via mediasi Oman dan Qatar yang sudah berjalan diam-diam — peluang 30%. Kedua, perang proxy terbatas di Laut Merah dengan penutupan parsial Bab el-Mandeb — peluang 50%, harga minyak stabil di US$100-120. Ketiga, perang regional penuh melibatkan Iran, Israel, AS, dan Arab Saudi dengan kedua selat tertutup total — peluang 20%, tapi dampak ekonomi global parah, mirip krisis minyak 1973.

Pertamina telah mengantisipasi dengan mempercepat pengembangan blok masif seperti Masela dan Sakakemang untuk kurangi ketergantungan impor. Namun proyek-proyek ini butuh 5-7 tahun baru produksi. Jangka pendek, kunci ada di efisiensi konsumsi dan percepatan transisi energi. Kementerian ESDM menargetkan campuran biodiesel B40 tahun depan, tapi realisasi B35 saja masih tertunda. Krisis ini jadi pengingat keras: keamanan energi bukan soal stok, tapi ketahanan rantai pasokan di era ketidakpastian geopolitik.

Mengapa Ini Penting

Krisis Selat Bab el-Mandeb bukan sekadar konflik Timur Tengah — ini uji nyata ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap bergantung impor energi dan rute perdagangan global. Naiknya harga minyak ke US$200 akan memaksa pemerintah memilih antara naikkan harga BBM subsidi (risiko politik) atau bobot) atau beban APBN meledak (risiko fiskal). Sementara penutupan rute Suez memaksa ekspor Indonesia ke Eropa belok ke Kelapa Gading, menaikkan biaya logistik 40% dan menggerus daya saing produk lokal. Jangka panjang, krisis ini mempercepat keharusan Indonesia membangun keamanan energi sejati: bukan cadangan BBM 20 hari, tapi kapasitas produksi dalam negeri dan diversifikasi rute logistik yang tidak rentan terhadap geopolitik jauh.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit