Serangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan dalam konfrontasi langsung antara Teheran dan Washington di wilayah Teluk Persia. Menurut pernyataan militer Iran yang disiarkan media negara, drone nirawak berhasil menerjang sistem pertahanan udara Patriot, radar Super Hawk, serta instalasi komunikasi dan tangki bahan bakar di pangkalan Ali Al Salem di Kuwait dan pangkalan Sheikh Isa di Bahrain.
Di Yordania, pangkalan udara Azraq menjadi sasaran ketiga. Iran mengklaim telah menghancurkan sistem komunikasi militer, situs radar tetap, dan depot bahan bakar di fasilitas tersebut. Al Jazeera melaporkan bahwa gelombang serangan ini dikerahkan beberapa jam setelah Iran mengumumkan balasan atas aksi AS.
Latar belakang kekerasan ini bermula dari serangan Washington terhadap barak Bampur di Iranshahr, Provinsi Sistan dan Baluchestan, beberapa hari sebelumnya. Teheran mengonfirmasi tujuh anggota tentara mereka tewas dalam gempuran tersebut, yang dinilai Iran sebagai pelanggaran kedaulatan dan provokasi militer langsung.
Analis keamanan regional menilai pilihan sasaran — sistem radar dan Patriot — menunjukkan strategi Iran untuk melumpuhkan mata dan telinga pertahanan udara AS sebelum melancarkan operasi lebih lanjut. Keakuratan penembakan terhadap radar Super Hawk di Bahrain mengindikasikan kemampuan intelijen dan presisi drone Iran yang semakin meningkat.
Kendati demikian, Pentagona belum mengeluarkan pernyataan resmi soal kerugian material atau korban jiwa di ketiga pangkalan tersebut. Kebisingan diplomatik pun mulai terasa, dengan Kuwait dan Bahrain — keduanya mitra keamanan AS kuno — terpaksa menghadapi tekanan domestik dan regional atas kehadiran pasukan asing di tanah mereka.
Bagi Indonesia, eskalasi ini mengancam stabilitas rute perdagangan vital di Selat Hormuz, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak global berlalu. Kenaikan harga energi global akan langsung mengikis daya beli masyarakat dan memperberat anggaran subsidi BBM negara, meski pemerintah telah menyiapkan mitigasi melalui diversifikasi impor.
Di sisi keamanan, TNI AL rutin mengirimkan eskorta ke wilayah Teluk Aden dan Selat Hormuz untuk melindungi tanker berbendera Indonesia. Peningkatan ketegangan memaksa komando maritim mengevaluasi ulang protokol keamanan dan jadwal patroli, mengingat potensi salah sasaran atau eskalasi tidak terduga.
Kementerian Luar Negeri RI melalui portavoznya menegaskan posisi netral dan mendorong deeskalasi melalui diplomasi. Jakarta juga mengingatkan warganya di wilayah konflik — termasuk TKI di Kuwait dan Bahrain — untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti petunjuk KBRI setempat.
Ahli geopolitik Universitas Indonesia, Dewi Fortuna Anwar, menilai bahwa Iran mencoba menetapkan aturan main baru: setiap serangan ke wilayahnya akan dibalas secara simetri terhadap aset AS di negara tetangga. "Ini menciptakan dilemma keamanan bagi negara-negara Teluk yang jadi sandaran AS," ujarnya.
Sementara itu, Israel memantau perkembangan ini dengan cemas. Tel Aviv khawatir Iran akan membuka front kedua melalui proksi di Lebanon atau Suriah jika konfrontasi dengan AS memanas. Koordinasi intelijen antara Mossad dan CIA dilaporkan ditingkatkan sejak minggu lalu.
Langkah selanjutnya bergantung pada respons Washington. Jika AS memilih balasan terbatas, Iran mungkin menganggapnya kelemahan dan memperluas jangkauan serangan. Sebaliknya, kontra-serangan masif berisiko memicu perang total yang menarik kekuatan regional dan global ke dalam vortex ketidakstabilan jangka panjang.