Kantor keamanan Israel mengungkapkan bahwa Hamas masih mempertahankan sebagian besar kekuatan militernya di Jalur Gaza, meskipun IDF telah "meratakan" wilayah tersebut. Menurut penilaian terbaru yang dilaporkan oleh penyiaran publik Israel, Kan, Rabu (15/7), Hamas saat ini memiliki sekitar 25.000 kombatan aktif. Angka ini mencakup 2.500 anggota unit elit Nukhba yang disebut‑sebut sebagai pasukan paling terlatih dan berbahaya di bawah kendali Hamas.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa sebelum perang pecah, Hamas diperkirakan memiliki sekitar 35.000 pejuang secara keseluruhan, dengan 5.000 di antaranya berasal dari unit Nukhba. Dengan demikian, kelompok tersebut berhasil mempertahankan lebih dari 70% kekuatan tempur mereka, sebuah fakta yang dianggap mengagetkan oleh para analis keamanan Israel.
Keberadaan Nukhba tidak hanya terbatas pada pertempuran di lapangan. Sumber‑sumber Israel melaporkan bahwa unit ini increasingly terlibat dalam operasi eksekusi diam‑diam terhadap warga yang dituduh berkolaborasi dengan Israel atau menentang kebijakan Hamas. Berbeda dengan eksekusi terbuka di masa lalu, pembunuhan sekarang dilakukan di lokasi tersembunyi seperti ruang bawah tanah rumah sakit atau bangunan tertutup lainnya, untuk menghindari kritik domestik dan dokumentasi publik.
Di sisi diplomatik, Hamas dikabarkan mengadakan pertemuan dengan pejabat senior Iran di sela‑sela pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Dalam pertemuan tersebut, Hamas menyerahkan dokumen yang berisi sejumlah permintaan kepada Teheran. Permintaan utama adalah agar Iran memberikan "payung diplomatik" yang dapat digunakan Hamas dalam negosiasi masa depan, serta memanfaatkan pengaruh regional dan internasional Tehran untuk memperkuat posisi tawar menawar kelompok tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena Jakarta terus memantau dinamika konflik di Timur Tengah sebagai bagian dari kebijakan luar negeri yang berorientasi pada perdamaian. Keberadaan pasukan elit seperti Nukhba menunjukkan bahwa kelompok‑kelompok militan mampu mempertahankan struktur organisasi yang kompleks meski telah diterpa serangan berkepanjangan. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat kerangka deradikalisasi dan pengawasan terhadap jaringan teroris domestik yang mungkin meniru taktik serupa.
Selain itu, taktik eksekusi diam‑diam yang digunakan Hamas mencerminkan pergeseran dari kekerasan terbuka ke metode yang lebih tersembunyi. Pola ini dapat menginspirasi kelompok‑kelompok ekstremis di Asia Tenggara untuk melakukan aksi‑aksi yang lebih rahasia, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra dari aparat keamanan Indonesia.
Para analis juga menyoroti pentingnya peran Iran sebagai penyokong logistik dan politik bagi Hamas. Dukungan diplomatik yang diminta Hamas dari Tehran dapat membuka jalur baru bagi kelompok tersebut untuk memperoleh senjata dan pendanaan, yang berpotensi merambah ke wilayah Asia melalui jaringan penyelundupan yang sudah ada.
Kendati demikian, Israel menegaskan bahwa pasukan mereka terus melakukan operasi untuk menekan kekuatan Hamas, meskipun tantangan geografis di Gaza sangat kompleks. Upaya ini melibatkan intelijen canggih, serangan presisi, dan koordinasi dengan sekutu regional untuk memutus rantai pasokan Hamas.
Bagi masyarakat Indonesia, berita ini mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak di kawasan tersebut, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas keamanan global dan regional. Pemantauan terhadap perkembangan teknologi militer yang digunakan oleh Hamas, seperti penggunaan drone kecil atau sistem komunikasi terenkripsi, dapat memberikan wawasan bagi industri pertahanan dalam negeri untuk mengembangkan sistem pertahanan yang lebih adaptif.
Ke depan, dinamika ini kemungkinan akan mendorong Israel untuk meningkatkan kerja sama dengan negara‑negara sekutu dalam berbagi teknologi pengawasan dan taktik kontra-pemberontakan. Di sisi lain, Hamas mungkin akan semakin bergantung pada dukungan eksternal, terutama dari Iran, untuk mempertahankan kelangsungan operasinya.
Secara keseluruhan, penilaian Israel tersebut menggambarkan ketangguhan Hamas yang melebihi ekspektasi awal, terutama melalui keberadaan pasukan elit Nukhba dan jaringan dukungan eksternal yang masih kuat. Perkembangan ini layak menjadi perhatian bagi pembuat kebijakan di Jakarta untuk memperkuat sistem deteksi dini dan kerangka hukum yang dapat mencegah penyebaran ideologi ekstremis yang mungkin terinspirasi oleh taktik‑taktik tersebut.