Pergeseran signifikan dalam persepsi global terjadi, di mana pandangan positif terhadap China kini melampaui Amerika Serikat di sebagian besar negara. Sebuah studi terbaru dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa 25 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei lebih condong memandang China secara positif dibandingkan AS. Ini menandai pertama kalinya dalam dua dekade pelacakan opini global oleh Pew, China menduduki peringkat lebih tinggi dari AS dalam hal penerimaan publik internasional.
Perubahan dramatis ini, yang dirilis pada pertengahan Juli, terjadi pada periode Februari hingga Mei. Studi ini mencakup lebih dari 42.000 responden di 35 negara, ditambah wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Temuan ini sangat kontras dengan pandangan global sebelumnya yang secara konsisten menempatkan AS di depan China. Kini, hanya enam negara yang masih memiliki pandangan lebih positif terhadap AS dibandingkan China.
Di antara negara-negara yang mengalami perubahan persepsi paling drastis adalah sekutu-sekutu AS, seperti Kanada. Di negara itu, pandangan positif terhadap AS merosot dari 57% menjadi 33% dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, pandangan positif terhadap China melonjak dari 14% menjadi 44% dalam periode yang sama. Kebijakan perdagangan AS di bawah pemerintahan Donald Trump, termasuk pengenaan tarif terhadap barang-barang Kanada, serta retorika yang meremehkan kedaulatan Kanada, disebut-sebut sebagai faktor utama di balik pergeseran ini.
Negara-negara Eropa besar seperti Prancis, Jerman, dan Inggris juga menunjukkan tren serupa. Di Inggris, misalnya, pandangan positif terhadap AS dan China kini hampir berimbang, setelah sebelumnya AS unggul 32 poin persentase tiga tahun lalu. Negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol, Italia, Swedia, dan Belanda juga dilaporkan mengalami perubahan preferensi yang mengarah ke China.
Pandangan terhadap pemimpin kedua negara juga mengalami pergeseran. Mayoritas responden di 22 dari 36 negara survei lebih menyukai Presiden China Xi Jinping dibandingkan Presiden AS Donald Trump. Namun, studi ini juga mencatat bahwa kepercayaan publik terhadap kedua pemimpin tersebut secara umum masih rendah di banyak negara. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun China lebih disukai secara umum, bukan berarti Xi Jinping mendapatkan pujian tanpa syarat.
Beberapa faktor disebut-sebut mendorong pergeseran pandangan global ini. Salah satunya adalah memudarnya ingatan publik terkait pandemi COVID-19, yang sempat menimbulkan pandangan negatif terhadap penanganan China. Selain itu, intervensi dan kebijakan AS di berbagai kancah internasional juga dinilai tidak selalu diterima secara positif. Tindakan seperti tuntutan kontrol atas Greenland, operasi militer di Venezuela, hingga penanganan konflik Israel-Hamas di Gaza, berkontribusi pada penurunan kepercayaan terhadap AS.
Laura Silver, associate director di Pew Research Center dan salah satu peneliti studi ini, menjelaskan bahwa perbandingan dengan AS turut menguntungkan China. "Secara perbandingan, kami tahu bahwa China dipandang sebagai mitra yang lebih dapat diandalkan di banyak tempat. China lebih mungkin dipandang berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa citra China sebagai mitra yang stabil dan konstruktif mulai terbentuk di benak publik internasional.
Situasi ini menjadi menarik ketika melihat negara-negara yang masih memiliki pandangan positif terhadap AS. Israel memimpin daftar dengan sekitar 80% warganya memandang AS secara positif, diikuti oleh Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia. Namun, bahkan di negara-negara ini, tingkat pandangan positif terhadap AS cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan tren global yang lebih luas.
Di sisi lain, meskipun China mengalami peningkatan citra, studi Pew juga menyoroti kesenjangan yang menyempit dalam hal penghormatan pemerintah terhadap kebebasan pribadi. Meskipun AS masih unggul dalam aspek ini, kesenjangan tersebut semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh penurunan persepsi global mengenai sejauh mana pemerintah AS menghormati kebebasan pribadi warganya sejak survei terakhir pada tahun 2021.
Implikasi dari pergeseran persepsi global ini sangat luas, terutama bagi lanskap geopolitik dan ekonomi dunia. Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Peningkatan citra China dapat membuka peluang kerja sama ekonomi dan investasi yang lebih luas, namun juga menuntut kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua negara adidaya. Ketergantungan ekonomi yang semakin besar pada China perlu diimbangi dengan strategi diplomasi yang cermat untuk menjaga kepentingan nasional.
Perspektif Indonesia terhadap tren ini perlu dicermati. Sebagai negara yang memiliki hubungan ekonomi signifikan dengan kedua negara, Indonesia patut menganalisis bagaimana pergeseran sentimen global ini dapat memengaruhi arus investasi, perdagangan, dan kerja sama teknologi. Memahami dinamika ini penting untuk merumuskan kebijakan luar negeri yang adaptif dan strategis di tengah lanskap global yang terus berubah.
Ke depan, tren ini kemungkinan akan terus berkembang. Bagaimana AS akan merespons penurunan citranya di mata dunia, dan bagaimana China akan memanfaatkan posisinya yang menguat, akan menjadi fokus utama pengamatan global. Perubahan persepsi ini bukan hanya soal opini publik, tetapi juga mencerminkan pergeseran kekuatan dan pengaruh di panggung dunia, yang dampaknya akan terasa dalam berbagai aspek, termasuk di Indonesia.