Prancis dan Inggris akan saling bentrok dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (18/7) pukul 17.00 waktu setempat atau 21.00 WIB. Pertandingan yang kini disebut FIFA sebagai 'final perunggu' itu menjadi ajang hiburan sekaligus perebutan uang hadiah tambahan bagi dua tim yang gagal melaju ke final.
Kedua negara menempati laga ini setelah kalah di semifinal. Sebagian besar pemain dan suporter tim yang tersingkir lebih memilih pulang, namun bagi pelatih dan federasi, laga ini masih menyimpan nilai komersial serta statistik individu yang berpengaruh pada penghargaan pencetak gol terbanyak.
Laga perebutan posisi ketiga pertama kali digelar pada Piala Dunia edisi kedua, 1934, ketika Jerman mengalahkan Austria 3-2. Format tersebut sempat absen pada 1950 menyusul jeda pasca-Perang Dunia, lalu kembali digunakan sejak 1954 hingga sekarang. FIFA mempertahankan laga ini karena menjadi peluang bagi kota tuan rumah dan penyiar untuk mengisi jeda jadwal antara semifinal terakhir dan partai puncak.
Secara teori, pertandingan ini menghadirkan dua tim elite yang layak memberikan hiburan tambahan. Namun realitas di lapangan kerap berbeda. Pemain kerap kelelahan secara mental setelah kegagalan mendekati gelar juara. Motivasi menjadi taruhan utama bagi pelatih yang harus meracik strategi tanpa menambah risiko cedera bintangnya.
Dari sisi finansial, selisih hadiah antara juara ketiga dan keempat cukup signifikan. Tim peringkat ketiga membawa pulang uang dua juta dolar AS lebih banyak dibanding tim peringkat keempat. Nilai tersebut setara Rp32 miliar berdasarkan kurs saat ini, jumlah yang tidak kecil bagi operasional federasi sepak bola nasional.
Laga ini juga berdampak langsung pada perburuan Sepatu Emas. Gol yang dicetak di pertandingan peringkat ketiga dihitung resmi karena masuk dalam kalender FIFA. Pada 1958, Just Fontaine mencetak empat gol untuk Prancis saat menekuk Jerman Barat 6-3, sebuah hasil yang mengantarnya memegang rekor 13 gol dalam satu turnamen hingga kini.
Musim ini, Lionel Messi memimpin daftar pencetak gol dengan delapan gol dan empat assist. Kylian Mbappe menyusul dengan delapan gol dan tiga assist, sementara Harry Kane serta Jude Bellingham sama-sama mengoleksi enam gol. Laga di Miami berpotensi mengubah posisi puncak apabila Mbappe atau Kane menambah pundi gol.
Bagi pembaca Indonesia, tradisi laga peringkat ketiga ini menarik karena tidak semua turnamen menerapkannya. Liga domestik maupun Piala Presiden di Tanah Air kerap mengeliminasi tim kalah semifinal tanpa perebutan posisi ketiga. Padahal, laga serupa dapat menjadi sarana evaluasi pemain muda sekaligus tambahan pemasukan bagi klub melalui hak siar.
Didier Deschamps, pelatih Prancis, menegaskan timnya masih punya tanggung jawab. 'Ada posisi ketiga yang harus diperjuangkan, kami akan melakukan segalanya untuk mendapatkannya. Kekecewaan kami sebanding dengan ambisi, tapi kami harus menerimanya,' ujarnya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa gengsi negara tetap di atas alasan kelelahan.
Di kubu Inggris, Thomas Tuchel justru terbuka soal motivasi rendah skuadnya. 'Tidak ada pemain Inggris maupun Prancis yang ingin main di laga ini. Semua ingin tampil di final. Kami sudah memberikan segalanya untuk ke sana, tapi inilah kenyataannya,' kata Tuchel. Pandangan itu mencerminkan beban psikologis pelatih yang harus menjaga moral usai gagal juara.
Ke depan, FIFA kemungkinan besar mempertahankan format ini mengingat nilai komersialnya. Laga pengisi jeda empat hari sebelum final terbukti menjaga antusiasme penonton global. Bagi Indonesia, pengalaman turnamen internasional semacam ini dapat menjadi referensi saat menghelat ajang multinasional agar tidak meninggalkan tim peringkat ketiga tanpa apresiasi resmi.
Prancis tercatat dua kali menang dari tiga kesempatan perebutan posisi ketiga, yakni 1958 dan 1986. Inggris justru selalu kalah pada 1990 dan 2018. Jerman memegang rekor tim paling sering finish ketiga dengan empat edisi. Data historis itu menunjukkan bahwa laga 'hiburan' ini menyimpan catatan prestasi yang nyata bagi beberapa negara.
Pertandingan Sabtu malam akan menjadi penutup pekan bagi jutaan penggemar di Asia Tenggara yang menonton via streaming. Hasilnya tidak hanya menentukan peta kekuatan Eropa, tetapi juga menulis ulang sejarah kecil Piala Dunia yang kerap luput dari sorotan utama.