Ratusan orang berkumpul di dekat Teater Nasional Ivan Franko di Kyiv, memprotes pemecatan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, dan mendesak Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk membatalkan keputusan tersebut. Aksi serupa juga terjadi di Lviv, Odesa, dan Dnipro, dengan pengunjuk rasa meneriakkan "Shame!" dan membawa spanduk bertuliskan "The Russians are celebrating".
Protes ini dipicu oleh keputusan Zelenskyy yang memecat Fedorov, seorang spesialis teknologi berusia 35 tahun yang dikenal karena mereformasi pengadaan pertahanan dan memberantas korupsi. Dalam masa jabatannya, Fedorov berhasil mematikan akses Starlink bagi pasukan Rusia dan meluncurkan program produksi drone lokal untuk mendukung upaya perang Ukraina. Ia juga dikenal karena menyederhanakan birokrasi dan menerapkan pendekatan berbasis data dalam melawan Rusia.
Fedorov, yang sebelumnya menjabat sebagai menteri transformasi digital pertama Ukraina, mengklaim telah mencapai kemajuan signifikan dalam pengadaan pertahanan yang transparan. Upayanya untuk memberantas korupsi membuatnya memiliki musuh di kalangan elit politik dan militer. Namun, para kritikus menilai ia lamban dalam mereformasi rekrutmen militer, sebuah janji kampanye yang belum sepenuhnya terwujud.
Di sisi lain, Zelenskyy menyatakan keinginannya agar Kementerian Pertahanan dan pimpinan militer bekerja lebih solid. Pernyataan ini muncul setelah beredar laporan tentang ketegangan antara Fedorov dan pejabat tinggi lainnya. Pemecatan ini merupakan bagian dari reshuffle kabinet kedua Zelenskyy dalam setahun terakhir, yang juga melibatkan mundurnya Perdana Menteri Yulia Svyrydenko.
Parlemen Ukraina bersiap memilih pemerintahan baru pada hari yang sama. Ihor Klymenko, yang saat ini menjabat sebagai menteri dalam negeri, diperkirakan akan menggantikan Fedorov sebagai menteri pertahanan. Selain itu, eksekutif energi Serhii Koretskyi diantisipasi akan dilantik sebagai perdana menteri bersama dengan menteri pertahanan dan luar negeri yang baru.
Bagi Indonesia, pengalaman Ukraina dalam memanfaatkan teknologi digital untuk keperluan pertahanan bisa menjadi pelajaran berharga. Upaya Kyiv untuk memproduksi drone lokal dan menggunakan sistem satelit seperti Starlink mencerminkan arah masa depan perang modern, yang juga relevan dengan kebutuhan pertahanan Indonesia di wilayah maritimnya. Kerjasama teknologi pertahanan yang lebih erat antara kedua negara bisa menjadi peluang untuk meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.
Fedorov, dalam akun X-nya, menyampaikan rasa hormat atas pelayanannya kepada rakyat Ukraina dan merangkum pencapaian kementeriannya. Ia menekankan pentingnya kemandirian teknologi dan integritas dalam pengadaan alutsista, sebuah prinsip yang juga banyak diperjuangkan oleh reformator di Indonesia.
Protes ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan dalam kepemimpinan dapat memicu reaksi publik, terutama ketika sosok tersebut dianggap sebagai simbol reformasi. Di Indonesia, perubahan serupa dalam kepemimpinan kementerian pertahanan sering kali menjadi sorotan karena dampaknya terhadap kebijakan pengadaan dan pengawasan anggaran.
Ke depannya, pengamat politik Ukraina memperkirakan bahwa reshuffle ini akan konsolidasi kekuasaan Zelenskyy dan upaya untuk meningkatkan efisiensi birokrasi pertahanan. Bagi Indonesia, hal ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara profesionalisme, politik, dan kepentingan rakyat harus terus dijaga dalam setiap perubahan kepemimpinan di sektor pertahanan.