Internasional

Wallabies Ganti Susunan Hadapi Italia, Schmidt Tampil Terakhir Sebelum Les Kiss Ambil Alih

Ringkasan

  • Pelatih Australia Joe Schmidt mengubah tiga posisi untuk uji Nations Championship melawan Italia di Perth, Sabtu (19/7), dengan menurunkan Fraser McReight ke cadangan dan mempercayakan Carlo Tizzano sebagai openside flanker utama.

Joe Schmidt memutuskan untuk mengacak susunan pemain Wallabies dalam upaya menghentikan gelapnya performa timnas Australia yang baru saja dikalahkan Prancis 26-42 pekan lalu. Perubahan paling mencolok adalah penurunan Fraser McReight ke bangku cadangan, digantikan oleh Carlo Tizzano yang kelahiran Perth untuk memakai nomor 7. Keputusan ini menandai akhir era Schmidt yang hanya bertahan sebentar di kendali tim sebelum diserahkan ke Les Kiss.

Tizzano bukan wajah asing bagi penggemar Super Rugby Pacific. Pemain Waratahs itu telah menunjukkan konsistensi di sisi lapangan dengan kemampuan turnover dan work rate tinggi. Schmidt tampak memprioritaskan fisikitas dan ketahanan di breakdown, area yang menjadi kelemahan Wallabies dalam sembilan kekalahan dari sepuluh pertandingan terakhir. Di posisi flyhalf, Declan Meredith mempertahankan kepercayaan meski debutnya gegen Prancis belum sempurna, sementara Harry Potter dan Brandon Paenga-Amosa naik ke lineup utama.

Kembali ke konteks yang lebih luas, Wallabies saat ini menempati posisi teratas dua dari bawah di klasemen Southern Hemisphere Nations Championship. Hanya Argentina yang berada di bawah mereka setelah Australia gagal mengumpulkan poin penuh dari laga melawan Prancis dan Irlandia. Rekor sembilan kekalahan dalam sepuluh pertandingan terakhir adalah jejak terburuk dalam sejarah modern rugby Australia, memicu tekanan masif dari media dan mantan pemain legendaris seperti George Gregan dan Michael Lynagh yang menilai sistem pengembangan pemain perlu dievaluasi total.

Schmidt sendiri mengakui adanya "tanda-tanda menggerakkan hati" dari timnya, namun menegaskan bahwa akurasi dan usaha harus dijaga selama 80 menit penuh. Pernyataan singkat itu mengandung frustrasi pelatih yang pernah membawa Irlandia ke ranking dunia nomor satu. Ia tahu waktu habis. Laga di Perth Rectangular Stadium akan menjadi penutup karier internasionalnya yang relatif singkat — hanya enam uji coba — sebelum Les Kiss, mantan pelatih backs Australia dan kini ketua pelatih Queensland Reds, resmi mengambil alih pada akhir tahun ini.

Di bangku cadangan, kehadiran Ben Donaldson yang pulih dari cedera betis menambah opsi serbaguna di backline. Ia bisa memainkan flyhalf, fullback, maupun center. Sementara Miles Amatosero, lock Waratahs berusia 23 tahun, siap debut internasional jika dipanggil. Pengalaman James Slipper yang sudah 138 kali memakai jersey Wallabies juga hadir di cadangan, menyediakan stabilitas scrum dan kepemimpinan di ruang ganti. Susunan cadangan yang kaya pengalaman ini menjadi kontras tajam dengan lineup utama yang relatif muda.

Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menawarkan pelajaran tentang manajemen transisi kekuasaan dalam olahraga tinggi. Rugby Indonesia sendiri sedang dalam fase pengembangan melalui program "Get Into Rugby" World Rugby dan liga domestik seperti Indonesia Rugby Union Championship. Keputusan Schmidt mempromosikan pemain muda seperti Meredith dan Tizzano sambil mempertahankan kerangka senior mirip strategi yang bisa diadopsi Pelatih Timnas Indonesia, Simon Jones, dalam membangun tim untuk Asian Games 2026 dan kelayakan World Cup 2027.

Italia sendiri hadir ke Perth dengan motivasi berbeda. Azzurri baru saja mengejutkan dunia dengan kemenangan historis atas Samoa dan menyaingi Wales di Six Nations. Di bawah pelatih Gonzalo Quesada, tim Eropa itu bermain dengan struktur disiplin dan kick game yang cerdas. Untuk Wallabies, ini bukan sekadar laga penutup musim — ini uji karakter. Kekalahan berarti Australia akan menutup tahun kalender dengan rekor terburuk dalam era profesional, sesuatu yang tidak terbayangkan bagi negara yang pernah tiga kali juara dunia.

Susunan penuh Australia: 15 Tom Wright, 14 Max Jorgensen, 13 Joseph-Aukuso Suaalii, 12 Len Ikitau, 11 Harry Potter, 10 Declan Meredith, 9 Ryan Lonergan, 8 Harry Wilson, 7 Carlo Tizzano, 6 Rob Valetini, 5 Jeremy Williams, 4 Josh Canham, 3 Allan Alaalatoa, 2 Brandon Paenga-Amosa, 1 Angus Bell. Cadangan: 16 Billy Pollard, 17 James Slipper, 18 Zane Nonggorr, 19 Miles Amatosero, 20 Fraser McReight, 21 Tate McDermott, 22 Ben Donaldson, 23 Filipo Daugunu.

Kemenangan atas Italia tidak akan menghapus musim yang mengecewakan, tapi akan memberi momentum psikologis bagi era Les Kiss. Sebaliknya, kekalahan akan memperdalam krisis kepercayaan diri dan memaksa Rugby Australia mengevaluasi tidak hanya koaching staff, tapi seluruh jalur pengembangan pemain dari akar rumput hingga elit. Sabtu di Perth, bukan hanya soal 80 menit rugby — tapi masa depan Wallabies itu sendiri.

Mengapa Ini Penting

Krisis Wallabies mencerminkan tantangan universal dalam olahraga elit: transisi generasi, tekanan hasil instan, dan ketergantungan pada sistem pengembangan jangka panjang. Bagi Indonesia yang sedang membangun ekosistem rugby dari nol, kasus Australia jadi studi kasus nyata — bagaimana menyeimbangkan pengalaman veteran dengan keberanian mempromosikan pemain muda, serta pentingnya stabilitas kepemimpinan teknis. Kegagalan Australia meski punya infrastruktur dan dana melimpah membuktikan uang dan fasilitas saja tidak cukup tanpa budaya kejujuran evaluasi dan kesabaran jangka panjang.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit