Internasional

WNI Singapura Tertinggal Bus Malam di Malaysia, Perusahaan Diam Minta Tanggung Jawab

Ringkasan

  • Warga Singapura Ernz, 35, tertinggal di area istirahat Malaysia pada pukul 04.15 dini hari setelah bus Billion Stars Express berangkat tanpa menunggunya saat istirahat toilet.

Seorang warga Singapura berusia 35 tahun, Ernz, mengalami pengalaman menakutkan saat perjalanan malam menuju Kuala Lumpur berujung tertinggal di tengah jalan. Peristiwa itu terjadi pada awal pekan lalu ketika bus ekspres Billion Stars Express yang menaikinya tiba-tiba bergerak meninggalkan area istirahat tanpa penumpang tersebut.

Menurut cerita Ernz kepada 8days.sg, bus berhenti di tengah perjalanan dan ia mengira itu jeda rutin. Ia turun untuk ke toilet, namun saat kembali bus sudah tidak terlihat. Temannya yang masih di dalam bus sempat memberitahu kru bahwa Ernz tertinggal, namun personel बस tetap melanjutkan perjalanan.

Kecemasan mulai menyerang saat Ernz menyadari dirinya sendirian di kegelapan. Upaya menghentikan kendaraan lewat justru berbahaya setelah sopir sebuah mobil memantulkan lampu jauh. Untungnya, seorang sopir Grab diam di dekat tempat. Ernz memesan lewat aplikasi dan sistem justru mencocokkannya dengan sopir yang sama. Lokasi penjemputan tercatat sebagai "Pusat Servis SONY" — sebuah bengkel, bukan terminal resmi.

Di lokasi itu hanya ada beberapa pengunjung warung makan dan sopir Grab. Tidak ada petugas keamanan maupun staf perusahaan bus. Ernz beruntung membawa telepon, power bank, dan paspor karena kebiasaan, bukan perencanaan. "Kalau cuma mau ke toilet sebentar, orang biasanya tinggalkan barang di bus," ujarnya.

Masalah justru sudah dimulai sebelum keberangkatan. Ernz memesan bus pukul 23.00 dari Tai Seng MRT ke Bukit Bintang pada 19 Juni. Namun perusahaan tiba-tiba memajukan keberangkatan ke pukul 22.00 tanpa alasan. Saat ia tiba naik taksi, bus belum ada. Ia terpaksa menunggu hingga pukul 23.15 baru naik.

Pasca insiden, Ernz berulang kali menghubungi Billion Stars Express namun tidak mendapat balasan hingga kini. Ironisnya, ia membayar asuransi perjalanan tambahan S$1,20 namun tidak mengajukan klaim karena merasa perusahaan yang bersalah dan tidak berusaha memperbaiki kesalahan. 8days.sg juga menghubungi perusahaan untuk konfirmasi, namun tidak ada tanggapan hingga deadline penulisan.

Kasus ini menyoroti kerentanan penumpang bus antarnegara di rute populer Singapura–Kuala Lumpur. Ribuan warga Indonesia dan Singapura menggunakan layanan serupa setiap minggu. Ketidakjelasan jadwal, kurangnya protokol pengecekan penumpang, dan respons nol perusahaan saat insiden jadi ancaman nyata bagi keamanan penumpang.

Di Indonesia, regulasi angkutan antar kota mewajibkan daftar penumpang dan prosedur keberangkatan yang ketat. Namun untuk rute lintas batas seperti Singapura–Malaysia, pengawasan sering abu-abu. Penumpang Indonesia yang naik bus serupa dari Batam atau Tanjung Balai ke Singapura, atau dari Jakarta ke Bandung malam hari, menghadapi risiko mirip: jeda tidak terjadwal, staf tidak profesional, dan sulit menuntut hak saat terjadi kecelakaan atau ketidakadilan.

Pakai aplikasi ride-hailing jadi pelarian darurat Ernz. Di Malaysia, Grab dan AirAsia Ride tersedia luas. Di Indonesia, Gojek dan Grab punya jangkau luas, tapi di area pinggiran atau jalan tol luar kota, sinyal lemah dan ketersediaan sopir minim jadi kendala. Ernz beruntung sinyal kuat dan sopir ada di dekatnya — situasi yang tidak selalu terulang.

Pengalaman ini mengubah cara Ernz memilih transportasi. "Saya akan riset dulu perusahaan busnya," kata ia. Pelajaran itu relevan bagi wisatawan Indonesia: cek ulasan Google, grup komunitas travel, dan rekam jejak perusahaan sebelum booking. Jangan hanya mengandalkan harga murah atau jadwal nyaman.

Sementara itu, diamnya Billion Stars Express mencerminkan kultur akuntabilitas lemah di industri bus budget Asia Tenggara. Tanpa tekanan regulasi lintas negara atau platform booking yang menegakkan standar layanan, kasus serupa berpotensi terulang. Penumpang butuh saluran pengaduan yang responsif — bukan hanya media sosial yang viral sesaat lalu terlupakan.

Untuk pemerintah Indonesia, kasus ini jadi pengingat penting soal perlindungan WNI di luar negeri. Kedutaan Besar di Singapura dan Konsulat Jenderal di Johor Bahru perlu memiliki protokol bantuan hukum dan konsuler untuk kasus penumpang tertinggal atau ditinggalkan bus asing. Data kontak darurat harus mudah diakses, bukan tersembunyi di situs web yang sulit dibuka saat darurat.

Industri bus malam tetap andalan banyak orang karena harga terjangkau. Tapi kehematan tidak boleh berarti mengorbankan keamanan. Perusahaan harus wajib menerapkan roll call sebelum berangkat, GPS tracking real-time yang bisa diakses penumpang, dan garansi respons maksimal 2 jam untuk insiden. Tanpa itu, Ernz tidak akan jadi korban terakhir.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini bukan sekadar insiden isolat — ia mengungkap celah sistemik di industri bus budget lintas batas yang digunakan ribuan warga Indonesia. Ketika perusahaan bisa diam menanggapi penumpang tertinggal di tengah malam tanpa konsekuensi, artinya perlindungan konsumen lintas negara hampir tidak ada. Bagi masyarakat Indonesia yang sering naik bus malam ke Singapura, Malaysia, atau rute domestik seperti Jakarta–Bandung, ini adalah wake-up call: harga murah tidak boleh jaminan keamanan nol. Perlu adanya standar minimum wajib (roll call, GPS tracking, SLA respons insiden) yang ditegakkan oleh regulator kedua negara, serta saluran pengaduan konsuler yang fungsional bagi WNI di luar negeri.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit